An excerpt from Puisi Bukan Puisi, Musik Bukan Musik.

Puisi Bukan Puisi, Musik Bukan Musik (Poetry Not Poetry, Music Not Music)

musik puisi bahasa isyarat dan lisan, dengan deskripsi visual dan caption/takarir bunyi (signed and spoken music-poetry with visual descriptions and sound captions)

berkolaborasi dengan (in collaboration) with Arief Wicaksono dan (and) Bawien Panggalih.

(English below)

Puisi Bukan Puisi, Musik Bukan Musik adalah karya audiovisual kolaborasi Jay Afrisando, Arief Wicaksono, dan Bawien Panggalih yang mengeksplorasi musik puisi dari perspektif Tuli, neurodivergen, dan dengar. Dengan berfokus pada bahasa isyarat dan neurodivergen, karya ini mengajak pendengar/penonton untuk melintasi batasan konvensional musik, puisi, dan musik puisi, dengan menyingkap ritme, pola, multiinterpretasi, kekeliruan interpretasi (secara gamblang), ekspresi nonverbal, dan hal lain yang umumnya tidak dianggap sebagai puisi dan musik dari perspektif Barat dan non-disabilitas-sementara.

Arief Wicaksono (Arief) adalah seorang Tuli sejak lahir yang sudah aktif bergabung dengan komunitas Deaf Art Community sejak tahun 2005. Arief aktif dalam komunitas Bawayang Production, berkolaborasi program event besar seperti Pekan Budaya Difabel (2020-sekarang), Pameran Tuli seniman Jogja, Pusat Layanan ArtJog 2022 dan LoveArtjog 2023-2025.

Bawien Panggalih adalah seorang ibu yang hobi menyanyi setiap hari tanpa sembunyi-sembunyi. Ia juga bekerja formal setiap Senin sampai Jumat di sebuah perusahaan kecil di Denpasar. Selain itu, dia adalah seorang “certified picky eater”.

Poetry Not Poetry, Music Not Music is a series of audiovisual works of Jay Afrisando, Arief Wicaksono, and Bawien Panggalih. It explores music-poetry from the perspectives of Deaf, neurodivergent, and hearing. Focusing on sign language and neurodivergence, this work invites listeners to cross the conventional boundaries of music, poetry, and music-poetry, by making the hidden and underexplored aspects of poetry and music more visible and audible: rhythm, pattern, multiinterpretation, (literal) misinterpretation, nonverbal expression, and many things generally not considered poetry and music from Western and temporarily-non-disabled perspectives.

Arief Wicaksono (Arief) is profoundly Deaf, actively joining the Deaf Art Community since 2005. Arief is a member of the Bawayang Production community, collaborating at prominent events such as Pekan Budaya Difabel (Disabled Culture Week, 2020-now), Pameran Tuli seniman Jogja (Yogyakarta Deaf Artist Exhibition), Pusat Layanan ArtJog (ArtJog Service Center) 2022, and LoveArtjog 2023-2025.

Bawien Panggalih is a mom who enjoys singing openly every day. She has a day job at a small company in Denpasar. In addition, she is a “certified picky eater.”

Detail karya/Work details

Tahun dibuat/Year created: 2025

Medium/Medium: film dengan deskripsi visual/film with visual descriptions

Durasi/Duration (total): 60 menit (minutes)

Para pelaku/Cast

Penggagas dan Pengarah Karya/Concept and Director: Jay Afrisando

Manajer Produksi/Production Manager: Terry Perdanawati

Komposisi Bahasa Isyarat/Signed Composition: Jay Afrisando & Arief Wicaksono

Komposisi Vokal/Vocal Composition: Jay Afrisando & Bawien Panggalih

Penampil Bahasa Isyarat/Signer: Arief Wicaksono

Penampil Vokal/Vocalist: Bawien Panggalih

Deskripsi Visual/Visual Description: Nels, Broto Wijayanto, Jay Afrisando, & Bawien Panggalih

Juru Bahasa Isyarat/Indonesian Sign Language (BISINDO) Interpreter: Nels

Videografer, Editor Film, dan Sound Engineer/Videographer, Film Editor, and Sound Engineer: Jay Afrisando

Arief Wicaksono direkam di/Arief Wicaksono was recorded at: Kasuli, Yogyakarta, ID

Bawien Panggalih direkam di/Bawien Panggalih was recorded at: T-Pro Studio, Denpasar, and Ruang Bunyi Studio, Yogyakarta, ID

Produksi karya ini didukung oleh/The work production was supported by: the University of California, Santa Cruz, and Bawayang Production.

Penampilan/Showcase

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Yogyakarta, ID, 27 December 2025. Pemutaran ini didukung oleh/This screening was supported by: Bawayang Production, the University of California, Santa Cruz, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, and Wartajazz.

Next
Next

Music i̶m̶Possible