Tonton Festival Musik dalam Layar

——————————

Episode #1

—————

 

Pertunjukan

—————

Penampil

  • Septina Rosalina Layan - Papua (07:45)

  • Gema & Tessa - DKI Jakarta (18:14)

  • Manangkata - Kalimantan Barat (28:04)

MC

Diwa Hutomo

Sesi Diskusi

—————

 

Pembicara

  • Jay Afrisando (Direktur Festival & Kurator, Penerima Dana Hibah OneBeat Accelerator, Komposer & Seniman Bunyi)

  • Leilani Hermiasih (Kurator Festival, Penyanyi & Penulis Lagu di Frau, Pengelola SamaSamaMakan)

  • Nursalim Yadi Anugerah (Kurator Festival, Komposer & Multiinstrumentalis, Alumnus OneBeat 2018)

  • Elena Moon Park (Direktur Found Sound Nation, Musisi)

  • Septina Layan (Komposer & Vokalis, Penampil di Festival Musik dalam Layar)

Moderator

Agus Setiawan Basuni (Wartajazz)

Profil

—————

Septina Layan adalah komposer & vokalis yang lahir di Merauke Papua, berdarah Tanimbar. Septina menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni di ISI Yogyakarta dan saat ini sedang studi di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Septina sangat menyukai dan mencintai nyanyian tradisi dan folklor Melanesia dan mulai fokus belajar serta mendokumentasikan nyanyian di Papua dan Maluku. ⁣Aktif membuat karya komposisi musik kontemporer berbasis tradisi Papua. Karyanya di tahun 2019 "Lament Story" dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. ⁣Tahun 2020 ini Septina berkolaborasi dengan Garin Nugroho sebagai salah satu komposer dan solois dalam karya "Planet Sebuah Lament". Karya tersebut telah dipentaskan di Melbourne Australia (Asia Topa) dan rencananya akan dipentaskan juga di beberapa negara Eropa di tahun depan.⁣

Gema & Tessa dibentuk pada tahun 2018, dilatarbelakangi oleh ketertarikan Gema Swaratyagita dan Tessa Prianka terhadap puisi dan pengolahan kata dalam musik. Sebelumnya, Gema dikenal sebagai komposer yang sejumlah karyanya pernah dimainkan di Holland Festival, Yogyakarta Contemporary Music Festival, International Gamelan Festival, dan Pekan Komponis Indonesia. Sedangkan Tessa dikenal sebagai performer dan singer-songwriter yang sudah mengeluarkan single pertamanya berjudul "Tanam Tuai". Gaya yang tak biasa dalam menginterpretasikan sebuah puisi, mereka memadukan unsur pop dan etnik. Garapannya tidak sederhana, tapi mampu memberikan ruh dan menciptakan nada-nada yang mudah dicerna dan easy listening disetiap kata-kata dalam puisi tersebut.⁣ Tanggal 25 Juni 2020 Gema & Tessa sudah meluncurkan single berjudul "Rahajeng Sanje" yang sudah ada di kanal digital. Dan mereka cukup aktif bergabung di beberapa acara musik dalam memperkanalkan karya-karyanya.⁣

ManangKata adalah project interdisiplin seni yang terdiri dari musik, visual dan teater yang dibentuk oleh Juan Arminandi dan M. Davi Yunan pada tahun 2018. Manang dalam bahasa Dayak Iban memiliki arti Dukun, sedangkan kata adalah kata. Ide Instrumen buatan yang dibuat oleh Juan Arminandi merupakan representasi dari instrumen tradisi Kalimantan. Sedangkan lirik yang ditulis oleh Davi merupakan penafsiran ulang tentang realita kehidupan yang ada di Kalimantan. Visual yang digarap oleh Rizki juga memperkuat performance Manangkata menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan. Project ini menjadi ruang eksperimen interdisiplin seni dan masih berlanjut hingga sekarang.⁣

Episode #2

—————

 

Pertunjukan

—————

Penampil

  • Salim Violin X Dwi Argi - Riau (08:26)

  • Rangga Purnama Aji -  Yogyakarta (15:51)

  • Wake Up Iris! - Jawa Timur (27:30)

MC

Putri Manjo

Sesi Diskusi

—————

 

Pembicara

  • Alex Lubet (Professor of Music, Head, Division of Creative Studies & Media, University of Minnesota)

  • Rizky Sasono (Penyanyi/Penulis Lagu, Mahasiswa PhD di Ethnomusicology, University of Pittsburgh)

  • Jay Afrisando (Komposer & Seniman Bunyi, Kandidat PhD di Music Composition, University of Minnesota)

Moderator

Santika Salim (EducationUSA Adviser)

Profil

—————

Salim Violin X Dwi Argi adalah duo yang mencoba untuk merangsang pendengar dengan bunyi-bunyian yang kekinian serta menawarkan bebunyian millennial yang baru dengan gaya khas musik Melayu yang sangat kental.⁣

Rangga Purnama Aji adalah seorang komponis, musisi elektronik, penulis lagu, live coder, serta seniman digital dan video yang tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Rangga menyelesaikan gelar sarjana seninya dari jurusan komposisi musik dan dinyatakan lulus dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2019. Aktif menekuni pertunjukan musik dengan praktik live coding selama tiga tahun, tergabung dalam komunitas live coder Argentina cabang internasional bernama CLiC (Colectivo de Live Coders), serta merupakan anggota dari ansambel live coding internasional bernama IG noto dengan anggota lainnya yaitu Iris Saladino (AR), Damián Silvani (AR), Rafael Diaz (CO), Joenio Costa (BR), dan Abhinay Khoparzi (IN). Saat ini dirinya menjabat sebagai Manajer Program dari komunitas October Meeting Contemporary Music & Musicians. Rangga juga sedang mengembangkan studi personalnya terhadap komposisi musik algoritma, sound studies, dan creative coding.

Wake Up Iris! dimulai di tahun 2015 oleh Bie Paksi dan Vania Marisca. Terinspirasi oleh semesta besar dan semesta kecil di sekitar mereka, musik Wake Up Iris! berisi harapan, semangat, keluh kesah dan pemikiran yang kadang dilematis untuk hanya diucapkan saja.⁣ Instrumen gitar nilon, kickdrum dan viola serta vokal menjadi ramuan utama dalam projek musik ini. Wake Up Iris! telah merilis album pertama A U R E O L E di tahun 2018 dan mengikuti berbagai festival musik seperti SXSW USA 2018, Zandari Festa 2018, Korea Selatan, Musik Hutan 2017 Makassar, dan Soundrenaline 2017-2019 Bali. Selain itu di tahun 2016-2017 menjadi brand ambassador Earth Hour Malang. Di tahun 2020, Wake Up Iris ingin memperkenalkan format baru dengan menambahkan warna elektronik dan drum set. Wake Up Iris sangat bersemangat untuk bergabung dengan Festival Musik dalam Layar untuk memperkenalkan format baru dan single terbaru yang akan dirilis dalam waktu dekat serta ingin berbagi semangat positif dalam menghadapi dunia yang tidak lagi sama ini.⁣⁣

Episode #3

—————

 

Pertunjukan

—————

Penampil

  • Rani Jambak - Sumatra Utara (04:25)

  • Rotary Motion - Kalimantan Barat (15:36)

  • LAIR - Jawa Barat (25:57)

MC

Anggrian Hida

Sesi Diskusi

—————

 

Pembicara

  • Jen Shyu (Multiinstrumentalis, Penari, Guggenheim Fellow, Fulbright Scholar 2011-2013 meneliti musik dan tari di Indonesia)

  • Rayhan Sudrajat (Komposer, Alumnus Onebeat 2017, Mahasiswa Riset Master di Ethnomusicology, Monash University, Australia)

  • Tedi En (Komposer, Alumnus Onebeat 2016, Penampil di LAIR)

  • Jay Afrisando (Komposer & Seniman Bunyi, Alumnus OneBeat 2015, Direktur Festival Musik dalam Layar)

Moderator

Janette Rouli (Kolasecom)

Profil

—————

Rani Jambak adalah seorang produser dan performer dari Medan, Sumatera Utara. Rani telah menyelesaikan kuliah di jurusan Master of Creative Industries, Macquarie University - Sydney. Pada tahun 2018, Rani merilis projek berkelanjutan untuk kampanye perlindungan alam melalui musik bertajuk #FORMYNATURE. Dalam komposisinya, Rani mengolah bunyi-bunyian elektronik dan sampling instrumen tradisional. Pada 2019, Rani mendapat kesempatan membuat komposisi untuk film bisu eksperimental dalam Festival Medan Soundspectives yang didanai oleh Robert Bosch Stiftung, Germany. Dalam proyek ini, Rani merambah pengelolaan soundscape dalam komposisinya. Berlanjut dalam karya Mahakarya Sumut, Rani menggabungkan 3 unsur yaitu elektronik, sampling instrumen tradisi dan soundscapes. Karya ini bekerjasama dengan Humas Pemprov Sumut yang bertujuan untuk mempromosikan keberagaman yang ada di Sumatera Utara. Juni 2020, karya bertajuk Sound of Medan dirilis. Karya ini merupakan rangkaian projek Sound of X oleh Goethe Institut Singapore mengenai ruang akustik dan suara-suara kota di wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.⁣

Rotary Motion adalah grup duo Pop Experimental asal Pontianak, Kalimantan Barat yang dibentuk pada masa pandemi COVID-19. Rotary Motion memanfaatkan improvisasi sebagai jalan proses kreatif penciptaan karya. Grup yang beranggotakan Reza Zulianda dan Bumadius ini sampai saat ini sudah membuat dua karya dan tetap produktif meskipun dalam masa pandemi.

LAIR adalah grup musik soul asal Jatiwangi yang musiknya terinspirasi dari tarling klasik dan mengeksplorasinya dengan gaya khas pantura. LAIR merekam keseharian hidup di tanah pesisir lewat lirik-lirik lagu. Grup ini digawangi oleh Tedi En, seorang musisi muda yang menjadi pelopor musik keramik/musik genteng dalam grup musik Hanyaterra. Tedi aktif mengurus konsorsium musik keramik di Jatiwangi Art Factory, dan pernah mewakili Indonesia dalam residensi OneBeat di Amerika Serikat. Alat musik tanah dan genteng yang mereka mainkan dibawa dari tanah kelahiran mereka, Jatiwangi.⁣

Episode #4

—————

 

Pertunjukan

—————

Penampil

  • Felish CHC - Maluku (09:14)

  • Numi Sonare - Sumatra Barat (19:17)

  • Railroad Therapy - Yogyakarta (30:39)

MC

Didi Idris

Sesi Diskusi

—————

 

Pembicara

  • Daniel Furuta (Musisi, Anggota Sumunar Gamelan Ensemble)

  • Nial Djuliarso (Pianis Jazz/Edukator)

  • Jay Afrisando (Komposer & Seniman Bunyi)

Moderator

Michael Budiman Mulyadi (Pengamat Kebijakan Budaya & Konduktor Orkestra)

Profil

—————

Felish CHC adalah rapper muda yang lahir di Ambon, Maluku. Rapper yang memiliki nama asli Firman Santoso Batara ini mengawali debutnya di scene hip-hop lokal pada tahun 2010 dengan nama panggung Felish CHC. Dalam tema lagu yang dibawakannya, Felish sering mengangkat seputar Kehidupan Sosial, Percintaan, Maluku, dll.⁣

Numi Sonare terdiri dari komposer dan musisi Nurkholis serta vokalis Putri Simponika. Grup ini membawakan karya-karya musik puisi, atau yang mereka sebut Nyanyian Sastrawi, yang diolah ke dalam gaya klasik, jazz, pop, rock, latin, astronesia, dll. Nurkholis adalah komposer, konduktor, musikolog, dosen, direktur musik Minangapentagong dan Numi Sonare.⁣ Nurkholis aktif membuat karya untuk orkestra, chamber, ensambel, kuintet. Selain itu dia aktif juga mengembangkan idiom Minangkabau ke bentuk jazz dan kontemporer, termasuk membuat gubahan choir berdasarkan dendang dan nyanyian nusantara⁣. Saat ini Nurkholis sedang studi doktoral dengan minat Penciptaan Musik di ISI Yogyakarta.  Komposer ini lahir di Bangkinang, Prov. Riau dan pernah menamatkan studi di SMKI Padang, lalu melanjutkan studi musik di ASKI Padang Panjang, STSI, dan juga menamatkan studi S2 di Pascasarjana ISI Padang Panjang.⁣

Railroad Therapy merupakan sebuah group (project) musik asal Yogyakarta, yang digagas oleh seorang pianis muda berbakat asal kota Tangerang Indonesia, Adi Wijaya. Dalam perjalan musiknya, Railroad Therapy ia bentuk bersama kedua rekan pemusik lainya, yaitu Dhimas Baruna “Kartawijaya“ Putra pada Bass gitar dan Andar Prabowo (Jatiraga) pada Drum. Proses penggarapan musik di Railroad Therpay dapat dibilang cukup terkonsep. Hal itu disebabkan, karena Adi Wijaya sebagai penggagas memiliki struktur kuat dalam proses penciptaan komposisi, sebelum akhirnya menjadi bahan eksekusi-diskusi seni di dalam project musik tersebut. Idealisasinya cukup kuat untuk menjaga arah pergerakan komposisi di Project tersebut, sehingga tidak melenceng ke bentuk produk musik diluar konsep Railroad Therapy. Dalam penggarapannya tidak lepas juga keterlibatan proses kreatif bersama Baruna Putra dan Andar Prabowo. Sebagai rekan pemusik dari Adi Wijaya, keduanya berkontribusi cukup besar dalam penggarapan proyek trio ini. Warna yang diberikan oleh kedua pemusik ini sangatlah kontras dengan karakter bermusik dan idealisme dari Adi Wijaya. Namun, hal tersebut justru memberikan keotentikan dari hasil karya dari Trio Railroad Therapy ini. Di mana saat itu, Baruna yang memiliki karakter fusion musik dan Andar sebagai drummer menunjukan “Punch“ Rock karakter dalam permainannya, mampu menciptakan groove yang berimbang dalam konsep musik di Railroad Therapy. Saat ini Railroad Therapy tampil dengan format grup 5 orang terdiri dari Adi Wijaya, Harly Yoga Pradana, Andar Prabowo, Daniel Ryan Arditya, dan Rimanda Sinaga. ⁣