Deskripsi Visual & Teks Polos
Politik Istilah dalam Disabilitas
Dalam Menaut Waktu. Merekam Jejak., bagian dari Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26 dan GIK Exhibition Series #2
Teks Polos
Politik Istilah dalam Disabilitas
Sebuah istilah bisa menjadi kekuatan atau malah penindasan terhadap seseorang, tergantung bagaimana ia dicetuskan. Istilah-istilah dalam disabilitas di berbagai tempat dipengaruhi oleh pemikiran, nilai lokal, nilai budaya lain yang terasimilasi, dan karakter bahasa itu sendiri.
Sebagai contoh, perkembangan advokasi disabilitas di Amerika Serikat dan Inggris banyak dipengaruhi oleh model sosial. Model sosial mengakui bahwa disabilitas terjadi karena konstruksi sosial dan lingkungan yang membatasi dan tidak mendukung. Model sosial menjadi lawan dari model medis yang beranggapan bahwa disabilitas adalah sesuatu yang perlu disembuhkan. Model medis, walaupun di satu sisi bermanfaat bagi pengobatan dan penyembuhan, juga mengandung unsur-unsur kolonialisme dan kapitalisme.
Pemikiran model sosial diperkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an melalui akademisi dan aktivis. Advokasi disabilitas di Indonesia dan Amerika Serikat juga telah memperjuangkan model hak asasi yang melihat disabilitas sebagai isu hak asasi manusia yang patut diperjuangkan, di antaranya melalui hukum dan hubungan sosial.
Sedangkan di Belanda, orang dengan disabilitas lebih banyak dipandang melalui perspektifperawatan (care) dan bantuan (support) daripada hak asasi manusia dan kesetaraan seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia. Istilah seperti persoon met autisme dan personen met auditieve beperking lebih banyak digunakan daripada autistisch persoon dan dove yang dianggap merendahkan oleh orang di luar grup yang mengalaminya. Meskipun begitu, saat ini wacana terkait model sosial juga mulai digaungkan di sana.
Karakter bahasa juga memengaruhi istilah dalam disabilitas. Bahasa Inggris (dan Bahasa Belanda, seperti contoh yang telah disebutkan) memungkinkan dua jenis penamaan: identity-first language (IFL), misalnya “disabled person”, dan person-first language (PFL), misalnya “person with a disability”. IFL muncul berkat semangat model sosial yang mengakui bahwa disabilitas merupakan bagian dari identitas hidup seseorang. Identitas ini kemudian menghubungkan seseorang dengan komunitas, budaya, atau sejarah orang yang bersangkutan, seperti contohnya yang terjadi dalam kebudayaan dan komunitas Tuli.
Dalam bahasa Indonesia, istilah “penyandang disabilitas” muncul sebagai istilah terjemahan resmi yangdiratifikasi melalui UNCRPD (United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities) sebagai alternatif dari “penyandang cacat” yang berkonotasi negatif. Sedangkan penamaan “difabel” muncul dalam lingkup aktivisme dan komunitas berkat pengaruh model sosial, namun dengan semangat yang berbeda. Disadur dari istilah differently abled, “difabel” menekankan pengakuan terhadapkemampuan (abilities) dan perbedaan (differences). Istilah “difabel” mengutamakan keunikan tiap individu.
Perbedaan pemikiran dan budaya menghasilkan perbedaan pengertian dan penamaan dalam disabilitas, yang tentunya tidak bisa disamaratakan. Jika Anda bingung istilah apa yang bisa dipakai, cara terbaik adalah dengan bertanya kepada individu atau komunitas terkait.
Flip Card 1
Bahasa Inggris
✅ disabled person
✅ person with a disability
❌ differently abled
❌ person with special needs
❌ defect person atau person with a deficit
❌ handicap
❌ mentally and physically challenged
❌ twice exceptional
❌ crippled
“Disabilitas” bukanlah kata ‘kotor’. Disabilitas merupakan kondisi, identitas, dan bagian dari keragaman manusia. Disabilitas juga menunjukkan keadaan di mana masyarakat turut bertanggung jawab atas lingkungan yang tidak aksesibel.
Gerakan kesetaraan di Amerika Serikat dan Inggris sangat memengaruhi penamaan. Differently abled, special needs, dan twice exceptional dulu pernah dipakai tapi sekarang tidak lagi diterima secara luas karena dianggap membeda-bedakan yang disabilitas dan yang bukan. Defect dan handicap pun tidak diterima karena menandakan identitas “kekurangan”.
Penutur Bahasa Inggris memakai format identity-first language dan person-first language dalam penamaan disabilitas. Beda disabilitasnya, beda pula pilihan cara penamaannya. Contohnya, a Deaf person dan a person with physical disabilities cenderung lebih dipakai daripada a person with Deafness dan a physically disabled person.
Bahasa Indonesia
✅ difabel
✅ penyandang disabilitas
✅ orang dengan disabilitas
❌ penderita cacat
❌ penyandang kelainan
❌ tuna- (kekurangan atau kehilangan)
❌ orang dengan kekurangan jasmani dan rohani
❌ orang berkebutuhan khusus
❌ anak inklusi
Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perubahan penamaan dari yang noninklusif menjadi lebih inklusif. Peraturan di Orde Lama dan Orde Baru menggunakan istilah “cacat”, “kelainan”, dan “kekurangan” untuk mengidentifikasi disabilitas. Sedangkan Istilah “tuna-” digunakan di Orde Baru sebagai bagian dari politik penamaan yang serba “memperhalus”.
Di era 1990-an, istilah “difabel” diperkenalkan oleh aktivis dan akademisi Mansour Fakih yang bernapaskan advokasi model sosial dari Amerika Serikat. Disadur dari differently able(d), “difabel” mengakui keunikan dan perbedaan tiap individu. Lewat CRPD pada tahun 2011, “penyandang disabilitas” diakui sebagai istilah resmi sebagai padanan kata “person with a disability”, yang kemudian banyak digunakan dalam konteks hukum.
Istilah “berkebutuhan khusus” masih digunakan oleh sebagian orang, walaupun sudah banyak pula ditinggalkan oleh orang yang mengadvokasi model hak asasi.
Bahasa Belanda
✅ gehandicapte
✅ persoon met een beperking
❌ invalide
❌ mindervalide
❌ zwakkere
❌ kwetsbare
Pengaruh model medis, yang mengandung unsur-unsur kolonialisme, sangat kuat memengaruhi negara-negara Eropa, termasuk Belanda, bahkan hingga sekarang. Istilah seperti invalide, mindervalide, zwakkere, dan kwetsbare yang mengindikasikan kerusakan, ketidaklayakan, kelemahan, dan kekurangan ini dulunya pernah digunakan. Namun perlahan, gerakan advokasi oleh kawan dengan dan tanpa disabilitas mengubah penamaan yang ableis menjadi lebih inklusif.
Penutur Bahasa Belanda memakai format identity-first language (IFL) dan person-first language (PFL). Format PFL, seperti di persoon met een beperking lebih banyak digunakan saat ini, namun advokasi dari difabel sendiri cenderung lebih memilih IFL, seperti contohnya gehandicapte, sebagai penunjuk identitas mereka.
Pada awal kemerdekaan Indonesia, istilah invalide atau invalid digunakan untuk menyebut orang dengan kecacatan fisik, terutama akibat perang. Dalam bahasa Belanda dikenal istilah oorlogsinvaliden (invalid perang) dan militaire invaliden (invalid militer), yang merujuk pada pejuang atau tentara yang mengalami amputasi, kehilangan penglihatan, kelumpuhan, atau cedera permanen. Istilah ini kemudian perlahan digantikan oleh “orang cacat”, “penyandang cacat”, dan akhirnya “penyandang disabilitas”.
Flip Card 2
Bahasa Inggris
✅ d/Deaf
✅ deaf*
✅ blind
✅ low vision
✅ autistic
✅ crip
❌ hearing impaired/loss
❌ visually impaired/loss
❌ imbecile atau feeble-minded
❌ crippled
Disabilitas dapat dilihat dari segi kondisi tubuh dan konstruksi sosial. Sebagai identitas, disabilitas pun dapat membentuk budaya, seperti budaya visual yang terjadi di komunitas Tuli dan budaya bunyi dalam ‘kegelapan’ di komunitas netra.
Sebagian istilah yang dulunya bermakna negatif akhirnya diklaim oleh individu dan kelompok yang mengalaminya sebagai empowerment (pemberdayaan). Contoh mutakhir di Amerika Serikat dan Inggris adalah crip, yang disadur dari crippled yang berkonotasi negatif. Crip menjadi istilah yang kuat dalam gerakan antiableisme dan antikapitalisme.
Istilah deaf* baru-baru ini diperkenalkan untuk memayungi spektrum pengalaman nonnormatif dalam auralitas, yang mencakup pengguna dan nonpengguna bahasa isyarat.
Bahasa Indonesia
✅ Tuli
✅ disabilitas netra
✅ autisme
❌ tunarungu
❌ tunanetra
❌ budeg
❌ bolot
❌ mental terbelakang
Karena advokasi kawan difabel memandang disabilitas sebagai identitas dan keunikan, penamaan yang diskriminatif dan ableis sudah banyak usang dan ditinggalkan. Istilah yang sarat eufemisme dan “politik penghalusan” ala Orde Baru, seperti kata-kata berawalan “tuna-”, dianggap menutupi identitas dan kondisi individu yang sebenarnya.
Di sisi lain, secara kultural, istilah yang disadur dari bahasa lokal, seperti “budeg” dan “bolot”, cenderung tidak dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, yang lebih memilih “Tuli” (dengan huruf T kapital yang menunjukkan identitas pemakai bahasa isyarat) sebagai istilah yang lebih inklusif.
Bahasa Belanda
✅ persoon met auditieve beperking
✅ Doof
✅ persoon met een visuele beperking
✅ persoon met autisme
✅ autistich persoon
❌ doofstomme
❌ gehoorgestoord
❌ zwakzinnig
Perkembangan penamaan disabilitas di Belanda berubah dari perspektif kolonial menuju model hak asasi dan model sosial yang meninggalkan istilah yang berbau “kekurangan”.
Meskipun prinsip inklusi dan integrasi telah digaungkan, disabilitas masih cenderung dipandang melalui teropong “santunan” dan “perawatan”. Aktivisme telah mengedepankan identity-first language (IFL), namun masyarakat masih cenderung memilih person-first language (PFL). Hal ini disebabkan karena aktivisme yang terjadi sejak 1970-an hingga sekarang pun masih terfragmentasi. Selain itu, belakangan ini, institusi penyedia layanan kesehatan di Belanda makin kuat posisinya dalam menekankan perspektif “perawatan”. Sehingga penyandang disabilitas—walaupun hidup dalam sistem yang “normal”—memiliki hidup yang terasa berjarak dengan masyarakat luas.
Flip Card 3
Bahasa Inggris
✅ non-disabled
✅ temporarily non-disabled
❌ normal
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Bahasa Indonesia
✅ nondifabel
❌ normal
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Bahasa Belanda
✅ persoon zonder beperking
❌ normal
❌ valide
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Flip Card 4
Bahasa Inggris
✅ an American Sign Language interpreter
✅ an Indonesian Sign Language interpreter
✅ a Dutch Sign Language interpreter
❌ a deaf interpreter
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Bahasa Indonesia
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Indonesia
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Amerika
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Belanda
❌ interpreter tuli
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Bahasa Belanda
✅ een tolk Nederlandse gebarentaal
✅ een tolk Indonesische gebarentaal
✅ een tolk Amerikaanse gebarentaal
❌ een doventolk
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Flip Card 5
Bahasa Inggris
✅ “anonymous/peer” review
✅ “insensitive”
❌ “blind” review
❌ tone “deaf” atau turn a “deaf” ear
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Bahasa Indonesia
✅ “kurang empati” atau “tidak peka” atau abai atau hatinya tertutup
✅ “egois” atau “asyik sendiri”
❌ “buta tuli”
❌ “autis”
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Bahasa Belanda
✅ “ongevoelig”
❌ “toondoof” atau “doof”
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Label Karya
Politik Istilah dalam Disabilitas
2026
Riset dan Infografis: Jay Afrisando, Terry Perdanawati, Rini Rindawati, Slamet Thohari
Desain infografis: Juan Constantine Elang Perkasa
politics (n): asumsi atau prinsip yang berkaitan dengan atau yang melekat pada bidang, teori, atau persoalan, terutama ketika berhubungan dengan kuasa dan status di masyarakat (New Oxford American Dictionary, 2010)
Cara kita memandang sesuatu dapat dipengaruhi oleh istilah yang digunakan. Tak terkecuali dalam wacana disabilitas, sebuah istilah dapat menimbulkan makna dan kesan tertentu terhadap bagaimana disabilitas dipandang. Di sisi lain, istilah tidak pernah muncul dengan sendirinya—ia lahir dari berbagai pemikiran, pengalaman, kebiasaan, dan bahasa yang dipakai.
Politik Istilah dalam Disabilitas merangkum berbagai sudut pandang yang bermuara pada berbagai istilah dalam disabilitas yang diciptakan dalam konteks bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Belanda; dalam konteks Amerika Serikat, Inggris, Indonesia, dan Belanda; serta di berbagai era. Pendekatan antarnegara dipilih tidak hanya karena wacana disabilitas di negara-negara tersebut relatif berkaitan, tetapi juga untuk mencermati tren politik istilah yang berkembang dari masa ke masa.