Menaut Waktu. Merekam Jejak. (Threading Time. Archiving Traces.)
Politik Istilah dalam Disabilitas/
The Politics of Terminology in Disability
Part of Jay Afrisando’s Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26
Politik Istilah dalam Disabilitas/The Politics of Terminology in Disability
EN
A word can empower or oppress someone. Disability terms vary across places and are shaped by beliefs, local values, assimilated cultures, and the language itself.
For example, the development of disability advocacy in the US and the UK has been greatly influenced by the social model. The social model acknowledges that disability emerges when social constructs and the environment are disabling. The social model is the opposite of the medical model that sees disability as something that needs to be cured. Although the medical model brings advantages for medical purposes, it also brings a colonialism and capitalism agenda with it.
The social model entered Indonesia sometime around the 1990s through academics and activists. Disability advocacy in Indonesia and the US has already fought for the human rights model, which sees disability as a human rights issue to be addressed through laws and social relations.
Meanwhile, in the Netherlands, people with disabilities are mostly seen through the perspective of care and support rather than from the human rights and equality perspective, as in the US, the UK, and Indonesia. Terms such as persoon met autisme and personen met auditieve beperking are used more than autistisch persoon and dove,which are seen as derogatory by people outside the group living with related disabilities.
Language characteristics also influence the terminology used in disability. English (and Dutch, as aforementioned) recognizes identity-first language (IFL), like “disabled people,” and person-first language (PFL), like “person with a disability.” IFL emerged through the social model, which acknowledges disability as an identity (therefore, the words “disabled” and “disability” are not considered dirty words). This identity then connects a person to communities, cultures, or history, as in Deaf cultures and communities.
In Indonesian, the term penyandang disabilitas (persons with disabilities) emerged as an official term in Law Number 19 of 2011, the law that ratified the UNCRPD (United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities). This term is used as an alternative to replace the term penyandang cacat (people with deficits) which caries negative connotation. Meanwhile, the term difabel emerged in activism and communities through the social model but with a different spirit. Taken from the term “differently abled,” difabel emphasizes the acknowledgment of abilitiesanddifferences. The term difabel prioritizes the individual’s uniqueness.
Differences in thoughts and cultures create differences in understanding and terminology in disabilities, and are not meant to be uniform. If you are not sure which terms to use, best practice is to consult directly with the individual or communities with disabilities in your area.
ID
Sebuah istilah bisa menjadi kekuatan atau malah penindasan terhadap seseorang, tergantung bagaimana ia dicetuskan. Istilah-istilah dalam disabilitas di berbagai tempat dipengaruhi oleh pemikiran, nilai lokal, nilai budaya lain yang terasimilasi, dan karakter bahasa itu sendiri.
Sebagai contoh, perkembangan advokasi disabilitas di Amerika Serikat dan Inggris banyak dipengaruhi oleh model sosial. Model sosial mengakui bahwa disabilitas terjadi karena konstruksi sosial dan lingkungan yang membatasi dan tidak mendukung. Model sosial menjadi lawan dari model medis yang beranggapan bahwa disabilitas adalah sesuatu yang perlu disembuhkan. Model medis, walaupun di satu sisi bermanfaat bagi pengobatan dan penyembuhan, juga mengandung unsur-unsur kolonialisme dan kapitalisme.
Pemikiran model sosial diperkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an melalui akademisi dan aktivis. Advokasi disabilitas di Indonesia dan Amerika Serikat juga telah memperjuangkan model hak asasi yang melihat disabilitas sebagai isu hak asasi manusia yang patut diperjuangkan, di antaranya melalui hukum dan hubungan sosial.
Sedangkan di Belanda, orang dengan disabilitas lebih banyak dipandang melalui perspektifperawatan (care) dan bantuan (support) daripada hak asasi manusia dan kesetaraan seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia. Istilah seperti persoon met autisme dan personen met auditieve beperking lebih banyak digunakan daripada autistisch persoon dan dove yang dianggap merendahkan oleh orang di luar grup yang mengalaminya. Meskipun begitu, saat ini wacana terkait model sosial juga mulai digaungkan di sana.
Karakter bahasa juga memengaruhi istilah dalam disabilitas. Bahasa Inggris (dan Bahasa Belanda, seperti contoh yang telah disebutkan) memungkinkan dua jenis penamaan: identity-first language (IFL), misalnya “disabled person”, dan person-first language (PFL), misalnya “person with a disability”. IFL muncul berkat semangat model sosial yang mengakui bahwa disabilitas merupakan bagian dari identitas hidup seseorang. Identitas ini kemudian menghubungkan seseorang dengan komunitas, budaya, atau sejarah orang yang bersangkutan, seperti contohnya yang terjadi dalam kebudayaan dan komunitas Tuli.
Dalam bahasa Indonesia, istilah “penyandang disabilitas” muncul sebagai istilah terjemahan resmi yangdiratifikasi melalui UNCRPD (United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities) sebagai alternatif dari “penyandang cacat” yang berkonotasi negatif. Sedangkan penamaan “difabel” muncul dalam lingkup aktivisme dan komunitas berkat pengaruh model sosial, namun dengan semangat yang berbeda. Disadur dari istilah differently abled, “difabel” menekankan pengakuan terhadapkemampuan (abilities) dan perbedaan (differences). Istilah “difabel” mengutamakan keunikan tiap individu.
Perbedaan pemikiran dan budaya menghasilkan perbedaan pengertian dan penamaan dalam disabilitas, yang tentunya tidak bisa disamaratakan. Jika Anda bingung istilah apa yang bisa dipakai, cara terbaik adalah dengan bertanya kepada individu atau komunitas terkait.
Flip Card 1
Bahasa Inggris
✅ disabled person
✅ person with a disability
❌ differently abled
❌ person with special needs
❌ defect person atau person with a deficit
❌ handicap
❌ mentally and physically challenged
❌ twice exceptional
❌ crippled
EN
“Disability” is not a ‘dirty’ word. Disability is a condition, identity, and part of human diversity. Disability can also be understood as a situation in which society is responsible for an inaccessible environment.
The equality movements in the US and the UK also shape these terms. “Differently abled,” “special needs,” and “twiceexceptional”were once used but are no longer widely accepted since they induce differences between the disabled and the non-disabled. “Defect” and “handicap” are also not accepted, as these two terms indicate a “shortcomings” identity.
English speakers recognize “identity-first language” and “person-first language” in disability terminology. Different types of disability affect the format choice. For instance, “a Deaf person” and “a person with physical disabilities” tend to be used rather than “a person with Deafness” and “a physically disabled person.”
ID
“Disabilitas” bukanlah kata ‘kotor’. Disabilitas merupakan kondisi, identitas, dan bagian dari keragaman manusia. Disabilitas juga menunjukkan keadaan di mana masyarakat turut bertanggung jawab atas lingkungan yang tidak aksesibel.
Gerakan kesetaraan di Amerika Serikat dan Inggris sangat memengaruhi penamaan. Differently abled, special needs, dan twice exceptional dulu pernah dipakai tapi sekarang tidak lagi diterima secara luas karena dianggap membeda-bedakan yang disabilitas dan yang bukan. Defect dan handicap pun tidak diterima karena menandakan identitas “kekurangan”.
Penutur Bahasa Inggris memakai format identity-first language dan person-first language dalam penamaan disabilitas. Beda disabilitasnya, beda pula pilihan cara penamaannya. Contohnya, a Deaf person dan a person with physical disabilities cenderung lebih dipakai daripada a person with Deafness dan a physically disabled person.
Bahasa Indonesia
✅ difabel
✅ penyandang disabilitas
✅ orang dengan disabilitas
❌ penderita cacat
❌ penyandang kelainan
❌ tuna- (kekurangan atau kehilangan)
❌ orang dengan kekurangan jasmani dan rohani
❌ orang berkebutuhan khusus
❌ anak inklusi
EN
Indonesia has a long history of terminology changes from using non-inclusive to inclusive terms. Regulations in the Old and New Order eras used cacat (defect), kelainan (abnormal), and kekurangan (deficiency) to indicate disability, whereas tuna- (“lack of _______”) was used as a euphemism in the New Order as part of the politics of “subtlety and modesty.”
In the 1990s, difabel—imbued with the spirit of the social model in the US—was introduced by activist and academic Mansour Fakih. It was adapted from “differently able(d),” which recognizes individuals’ uniqueness and diversity. Through the CRPD in 2011, penyandang disabilitas was ratified as a direct translation of “person with a disability,” which has been used in legal contexts since then.
The term berkebutuhan khusus (“special needs”) is still used by some people, although no longer used by people advocating for the human rights model.
ID
Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perubahan penamaan dari yang noninklusif menjadi lebih inklusif. Peraturan di Orde Lama dan Orde Baru menggunakan istilah “cacat”, “kelainan”, dan “kekurangan” untuk mengidentifikasi disabilitas. Sedangkan Istilah “tuna-” digunakan di Orde Baru sebagai bagian dari politik penamaan yang serba “memperhalus”.
Di era 1990-an, istilah “difabel” diperkenalkan oleh aktivis dan akademisi Mansour Fakih yang bernapaskan advokasi model sosial dari Amerika Serikat. Disadur dari differently able(d), “difabel” mengakui keunikan dan perbedaan tiap individu. Lewat CRPD pada tahun 2011, “penyandang disabilitas” diakui sebagai istilah resmi sebagai padanan kata “person with a disability”, yang kemudian banyak digunakan dalam konteks hukum.
Istilah “berkebutuhan khusus” masih digunakan oleh sebagian orang, walaupun sudah banyak pula ditinggalkan oleh orang yang mengadvokasi model hak asasi.
Bahasa Belanda
✅ gehandicapte
✅ persoon met een beperking
❌ invalide
❌ mindervalide
❌ zwakkere
❌ kwetsbare
EN
The medical model, influenced by colonialism, has strongly influenced European countries, including the Netherlands, even until now. The terms invalide, mindervalide, zwakkere, and kwetsbare, indicating deficiency, unworthiness, weakness, and shortcomings, were once used. However, advocacy movements from disabled and non-disabled people have slowly changed the system to avoid using ableist terms.
Dutch speakers recognize the identity-first language (IFL) and person-first language (PFL) formats. The PFL format, such as in persoon met een beperking, is widely used now. However, disability advocacy movements prefer the IFL format, such as gehandicapte, to show disability as their identity.
In early Indonesian independence, invalide or invalid was used to call people with physical defects, especially those caused by war. In Dutch, it is called oorlogsinvaliden (war invalid) and militaire invaliden (military invalid), referring to combatants and soldiers who underwent amputation, lost sight, suffered paralysis, or sustained permanent injuries. These words were eventually replaced with orang cacat (“a defect”), orang dengan kekurangan (“a person with a deficit”), and finally penyandang disabilitas (“a person with a disability”).
ID
Pengaruh model medis, yang mengandung unsur-unsur kolonialisme, sangat kuat memengaruhi negara-negara Eropa, termasuk Belanda, bahkan hingga sekarang. Istilah seperti invalide, mindervalide, zwakkere, dan kwetsbare yang mengindikasikan kerusakan, ketidaklayakan, kelemahan, dan kekurangan ini dulunya pernah digunakan. Namun perlahan, gerakan advokasi oleh kawan dengan dan tanpa disabilitas mengubah penamaan yang ableis menjadi lebih inklusif.
Penutur Bahasa Belanda memakai format identity-first language (IFL) dan person-first language (PFL). Format PFL, seperti di persoon met een beperking lebih banyak digunakan saat ini, namun advokasi dari difabel sendiri cenderung lebih memilih IFL, seperti contohnya gehandicapte, sebagai penunjuk identitas mereka.
Pada awal kemerdekaan Indonesia, istilah invalide atau invalid digunakan untuk menyebut orang dengan kecacatan fisik, terutama akibat perang. Dalam bahasa Belanda dikenal istilah oorlogsinvaliden (invalid perang) dan militaire invaliden (invalid militer), yang merujuk pada pejuang atau tentara yang mengalami amputasi, kehilangan penglihatan, kelumpuhan, atau cedera permanen. Istilah ini kemudian perlahan digantikan oleh “orang cacat”, “penyandang cacat”, dan akhirnya “penyandang disabilitas”.
Flip Card 2
Bahasa Inggris
✅ d/Deaf
✅ deaf*
✅ blind
✅ low vision
✅ autistic
✅ crip
❌ hearing impaired/loss
❌ visually impaired/loss
❌ imbecile atau feeble-minded
❌ crippled
EN
Disability can be viewed as both a bodymind condition and a social construction. As an identity, disability can shape a culture, like a visual culture in Deaf communities and a sound-in-the-“dark” culture in blind communities.
Some terms that once carried a negative connotation are eventually claimed by individuals and related groups as empowerment. A recent example in the US is “crip”; it is adapted from “crippled,” which carries a negative connotation. “Crip” becomes a powerful term in anti-ableist and anti-capitalist movements.
The term “deaf*” was recently introduced as an umbrella term for non-normative experiences around/within aurality, including users and non-users of sign language.
ID
Disabilitas dapat dilihat dari segi kondisi tubuh dan konstruksi sosial. Sebagai identitas, disabilitas pun dapat membentuk budaya, seperti budaya visual yang terjadi di komunitas Tuli dan budaya bunyi dalam ‘kegelapan’ di komunitas netra.
Sebagian istilah yang dulunya bermakna negatif akhirnya diklaim oleh individu dan kelompok yang mengalaminya sebagai empowerment (pemberdayaan). Contoh mutakhir di Amerika Serikat dan Inggris adalah crip, yang disadur dari crippled yang berkonotasi negatif. Crip menjadi istilah yang kuat dalam gerakan antiableisme dan antikapitalisme.
Istilah deaf* baru-baru ini diperkenalkan untuk memayungi spektrum pengalaman nonnormatif dalam auralitas, yang mencakup pengguna dan nonpengguna bahasa isyarat.
Bahasa Indonesia
✅ Tuli
✅ disabilitas netra
✅ autisme
❌ tunarungu
❌ tunanetra
❌ budeg
❌ bolot
❌ mental terbelakang
EN
Since disability advocacy movements perceive disability as an identity and uniqueness, ableist and discriminatory terms have been widely left behind. Euphemistic terms shaped by the Old Order Era’s politics of “subtlety and modesty,” such as words beginning with tuna- (“lack of _______”), are perceived as masking individuals’ identity and real conditions.
On the other hand, culturally, locally adapted terms, including budeg and bolot (literally meaning “cannot hear”), tend not to be used in the Indonesian context. The communities prefer Tuli (meaning “Deaf,” with a capital “T” that indicates the identity of sign language users) as a more inclusive term.
ID
Karena advokasi kawan difabel memandang disabilitas sebagai identitas dan keunikan, penamaan yang diskriminatif dan ableis sudah banyak usang dan ditinggalkan. Istilah yang sarat eufemisme dan “politik penghalusan” ala Orde Baru, seperti kata-kata berawalan “tuna-”, dianggap menutupi identitas dan kondisi individu yang sebenarnya.
Di sisi lain, secara kultural, istilah yang disadur dari bahasa lokal, seperti “budeg” dan “bolot”, cenderung tidak dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, yang lebih memilih “Tuli” (dengan huruf T kapital yang menunjukkan identitas pemakai bahasa isyarat) sebagai istilah yang lebih inklusif.
Bahasa Belanda
✅ persoon met auditieve beperking
✅ Doof
✅ persoon met een visuele beperking
✅ persoon met autisme
✅ autistich persoon
❌ doofstomme
❌ gehoorgestoord
❌ zwakzinnig
EN
Disability terminology in the Netherlands has shifted from colonial perspectives to human rights and social models, rejecting terms that carry a “shortcomings” connotation.
Although inclusion and integration-to-mainstream principles have been amplified, disability is still seen through the lens of “charity” and “care.” Activism has advocated for identity-first language (IFL), but society tends to use person-first language (PFL). This is because disability activism has remained fragmented since the 1970s. In addition, Dutch healthcare institutions have recently established stronger positions in promoting the “care” perspective. Therefore, people with disabilities, although living within the ‘normal’ society, experience a distant life from a wider society.
ID
Perkembangan penamaan disabilitas di Belanda berubah dari perspektif kolonial menuju model hak asasi dan model sosial yang meninggalkan istilah yang berbau “kekurangan”.
Meskipun prinsip inklusi dan integrasi telah digaungkan, disabilitas masih cenderung dipandang melalui teropong “santunan” dan “perawatan”. Aktivisme telah mengedepankan identity-first language (IFL), namun masyarakat masih cenderung memilih person-first language (PFL). Hal ini disebabkan karena aktivisme yang terjadi sejak 1970-an hingga sekarang pun masih terfragmentasi. Selain itu, belakangan ini, institusi penyedia layanan kesehatan di Belanda makin kuat posisinya dalam menekankan perspektif “perawatan”. Sehingga penyandang disabilitas—walaupun hidup dalam sistem yang “normal”—memiliki hidup yang terasa berjarak dengan masyarakat luas.
Flip Card 3
Bahasa Inggris
✅ non-disabled
✅ temporarily non-disabled
❌ normal
EN
There is no such thing as ‘normal’ in human lives. Humans have diverse bodyminds. All of us will eventually be disabled. As Alice Wong said, “the future is disabled.”
ID
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Bahasa Indonesia
✅ nondifabel
❌ normal
EN
There is no such thing as ‘normal’ in human lives. Humans have diverse bodyminds. All of us will eventually be disabled. As Alice Wong said, “the future is disabled.”
ID
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Bahasa Belanda
✅ persoon zonder beperking
❌ normal
❌ valide
EN
There is no such thing as ‘normal’ in human lives. Humans have diverse bodyminds. All of us will eventually be disabled. As Alice Wong said, “the future is disabled.”
ID
Tidak ada yang “normal” dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki tubuh yang beragam. Kita semua (akan) mengalami disabilitas (pada waktunya). Seperti kata Alice Wong, “masa depan adalah disabilitas” (the future is disabled).
Flip Card 4
Bahasa Inggris
✅ an American Sign Language interpreter
✅ an Indonesian Sign Language interpreter
✅ a Dutch Sign Language interpreter
❌ a deaf interpreter
EN
A sign language, like another verbal/written language, differs from one to another. For instance, Americans communicate using English; Nederlanders communicate using Dutch. The same applies to sign language. Americans’ sign language—ASL/American Sign Language—differs from Nederlanders’ sign language, Nederlandse gebarentaal.
Like English and other verbal/written languages, ASL (and its local dialects) has its own grammar and vocabulary and is a language in its own right. Therefore, the interpreter is called “an ASL interpreter,” not “a deaf interpreter.”
ID
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Bahasa Indonesia
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Indonesia
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Amerika
✅ juru bahasa isyarat (JBI) Belanda
❌ interpreter tuli
EN
A sign language, like another verbal/written language, differs from one to another. For instance, Indonesians communicate using bahasa Indonesia; Nederlanders communicate using Dutch. The same applies to sign language. Indonesians’ sign language—BISINDO/ Bahasa Isyarat Indonesia/Indonesian sign language—differs from Nederlanders’ sign language, Nederlandse gebarentaal.
Like Indonesian and other verbal/written languages, BISINDO (and its local dialects) has its own grammar and vocabulary, and is a language in its own right. Therefore, the interpreter is called “an Indonesian Sign Language interpreter” (juru bahasa isyarat (JBI) Indonesia), not interpreter tuli (“a deaf interpreter”).
ID
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Bahasa Belanda
✅ een tolk Nederlandse gebarentaal
✅ een tolk Indonesische gebarentaal
✅ een tolk Amerikaanse gebarentaal
❌ een doventolk
EN
A sign language, like another verbal/written language, differs from one to another. For instance, Nederlanders communicate using Dutch; Indonesians communicate using bahasa Indonesia. The same applies to sign language. Nederlanders’ sign language—Nederlandse gebarentaal/Dutch Sign Language—differs from Indonesians’ sign language, BISINDO/Bahasa Isyarat Indonesia/Indonesian Sign Language.
Like Dutch and other verbal/written languages, Dutch Sign Language has its own grammar and vocabulary, and is a language in its own right. Therefore, the interpreter is called “a Dutch Sign Language interpreter” (een tolk Nederlandse gebarentaal), not een doventolk (“a deaf interpreter”).
ID
Bahasa isyarat, seperti halnya pada bahasa lisan/tulisan, berbeda satu dengan yang lain. Contohnya, orang Indonesia berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, orang Belanda berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Begitu pula dalam bahasa isyarat. Bahasa isyaratnya orang Indonesia (BISINDO) berbeda dari bahasa isyaratnya orang Belanda (Nederlandse gebarentaal).
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lisan/tulisan asing lainnya, bahasa isyarat Indonesia dan bahasa isyarat di daerah lain memiliki tata bahasa dan kosakatanya sendiri dan merupakan bahasa seutuhnya. Sehingga penerjemah/interpreternya disebutkan sebagai penerjemah/intepreter bahasa isyarat tersebut, bukan disebut sebagai penerjemah/intepreter tuli.
Flip Card 5
Bahasa Inggris
✅ “anonymous/peer” review
✅ “insensitive”
❌ “blind” review
❌ tone “deaf” atau turn a “deaf” ear
EN
Disability terms are often used in non-disabled groups to carry negative connotations, which essentially do not relate to disability at all. This is due to the fact that some groups of people, especially influenced by ableist and colonial cultures, still view disability as a stigma.
Let’s avoid using ableist words in our everyday communication.
ID
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Bahasa Indonesia
✅ “kurang empati” atau “tidak peka” atau abai atau hatinya tertutup
✅ “egois” atau “asyik sendiri”
❌ “buta tuli”
❌ “autis”
EN
Disability terms are often used in non-disabled groups to carry negative connotations, which essentially do not relate to disability at all. This is due to the fact that some groups of people, especially influenced by ableist and colonial cultures, still view disability as a stigma.
Let’s avoid using ableist words in our everyday communication.
ID
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Bahasa Belanda
✅ “ongevoelig”
❌ “toondoof” atau “doof”
EN
Disability terms are often used in non-disabled groups to carry negative connotations, which essentially do not relate to disability at all. This is due to the fact that some groups of people, especially influenced by ableist and colonial cultures, still view disability as a stigma.
Let’s avoid using ableist words in our everyday communication.
ID
Istilah dalam disabilitas sering dipakai di kalangan nondifabel untuk menyebut konotasi negatif yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan disabilitas. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat, terutama bawaan budaya ableis dan kolonial, masih menganggap disabilitas sebagai stigma negatif. Mari kita mulai menghindari menggunakan kata-kata ableis dalam komunikasi sehari-hari.
Label Karya/Work Label
Politik Istilah dalam Disabilitas/The Politics of Terminology in Disability
2026
Riset dan Infografis/Resercah: Jay Afrisando, Terry Perdanawati, Rini Rindawati, Slamet Thohari
Desain Infografis/Infographic Design: Juan Constantine Elang Perkasa
EN
politics (n): the assumptions or principles relating to or inherent in a sphere, theory, or thing, especially when concerned with power and status in a society (New Oxford American Dictionary, 2010)
The way we see things is influenced by the word used to describe them, and disability issues are no exception. A word/term can create meaning and nuance in how disability is seen. On the other hand, words/terms never emerge from a vacuum—they were born from various thoughts, experiences, customs, and languages used.
Politik Istilah dalam Disabilitas (The Politics of Terminology in Disability) summarizes various views leading to terminology in disability in the language context of English, Indonesian, and Dutch; in the social context in the US, the UK, Indonesia, and the Netherlands; and in several eras. This approach was chosen not only because disability discourses in those countries are relatively interrelated in this exhibition context but also to see the trend of the politics of the terminology from one era to the other.
ID
politics (n): asumsi atau prinsip yang berkaitan dengan atau yang melekat pada bidang, teori, atau persoalan, terutama ketika berhubungan dengan kuasa dan status di masyarakat (New Oxford American Dictionary, 2010)
Cara kita memandang sesuatu dapat dipengaruhi oleh istilah yang digunakan. Tak terkecuali dalam wacana disabilitas, sebuah istilah dapat menimbulkan makna dan kesan tertentu terhadap bagaimana disabilitas dipandang. Di sisi lain, istilah tidak pernah muncul dengan sendirinya—ia lahir dari berbagai pemikiran, pengalaman, kebiasaan, dan bahasa yang dipakai.
Politik Istilah dalam Disabilitas merangkum berbagai sudut pandang yang bermuara pada berbagai istilah dalam disabilitas yang diciptakan dalam konteks bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Belanda; dalam konteks Amerika Serikat, Inggris, Indonesia, dan Belanda; serta di berbagai era. Pendekatan antarnegara dipilih tidak hanya karena wacana disabilitas di negara-negara tersebut relatif berkaitan, tetapi juga untuk mencermati tren politik istilah yang berkembang dari masa ke masa.