Deskripsi Visual & Teks Polos

Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia

Dalam Menaut Waktu. Merekam Jejak., bagian dari Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26 dan GIK Exhibition Series #2

Deskripsi Visual

Apa yang Anda lihat adalah sebuah lukisan yang dipajang di dinding dengan menggunakan tali yang mengikat enam titik di pinggiran lukisan.

Lukisan ini menggambarkan tiga tokoh utama: anak laki-laki di tengah, seorang perempuan di sebelah kiri, dan sekelompok orang di sebelah kanan.

Sisi kiri lukisan menampilkan dunia lautan di mana perempuan tersebut berada. Sisi kanan lukisan menampilkan dunia daratan di mana sekelompok orang tersebut berada. Awan kebiruan menyelimuti beberapa orang.

Anak laki-laki tersebut tampak seperti orang ‘normal’. Ia berambut hitam pendek, matanya tertutup, dan menghadap ke penonton lukisan. Ia berada di tengah di mana hidupnya terbagi menjadi dua. Kulit di sisi kanan anak itu tampak lebih cerah, sedangkan kulit di sisi kiri anak itu tampak kemerahan pucat. Ekspresi wajahnya sedih, dan air mata jatuh dari mata kirinya.

Ia direngkuh oleh perempuan di sebelah kanannya yang tersenyum: seorang ibu, Nyi Roro Kidul, tokoh mitos yang hidup di laut. Ia berambut hitam panjang dan mengenakan kostum tradisional Jawa berwarna hijau, mahkota emas, anting emas, kalung emas, dan gelang emas di lengan dan pergelangannya. Di saat yang sama, anak itu dicemooh oleh sekelompok orang di sisi kirinya: orang Jawa. Mereka berkulit merah dan memiliki pandangan tajam, yang nampak marah dan kecewa oleh kehadiran si anak tersebut. Dua dari mereka mengacungkan telunjuk mereka, sedangkan salah satu dari mereka mengacungkan jempol ke bawah kepada si anak itu.

Label Karya

Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia

2026

Seniman: Zakka Nurul Giffani Hadi

Media: akrilik di kanvas, 99 x 58 cm

Merespons arsip: Scheltema, J. F. (pengarsip). 1919. “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland,” dipublikasikan berdasarkan teks yang ditemukan di kediamannya, yang diselesaikan pada tanggal 26 April 1919. Dimuat dalam De Indische Gids, II Episode VII-XII, editor George Nypels. Penerbit: J.H. De Bussy.

Nyi Roro Kidul, sosok supernatural dalam cerita rakyat, bukan sosok yang asing bagi orang Jawa dan orang yang tinggal di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meskipun begitu, bagian dari cerita bahwa dia memiliki anak yang Tuli yang kondisinya dia tutup-tutupi bukan hal yang sering kita dengar.

Sebuah arsip di KITLV, “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland” (SY BUDAG. Legenda dari dataran tinggi Jawa), sebagaimana dituturkan oleh pemilik warung yang berlokasi di area antara Tulungagung dan Campurdarat (Kabupaten Tulungagung), menarasikan cerita yang jarang terdengar ini tentang Nyi Roro Kidul yang mencari istri dari kalangan putri raja untuk dinikahkan dengan anaknya yang “tuli total” (stone-deaf, istilah yang digunakan dalam arsip). Si Budag mengalami penolakan demi penolakan dari berbagai kerajaan Jawa yang dikunjungi oleh Nyi Roro Kidul dan Budag. Sebagai bagian dari usahanya, Nyi Roro Kidul mengundang tabib dari negeri seberang untuk mendiagnosis anaknya. Dia menyatakan bahwa buaian mesra kasih sayang yang dibisikkan ke telinga Si Budag akan mengembalikan pendengarannya. Tetapi dalam pertemuan Si Budag dengan Nyi Roro Pending, pernyataan tersebut terbukti keliru, dan Nyi Roro Pending menolak Si Budag secara kasar karena dia merasa ditipu, tidak diberi tahu bahwa Si Budag merupakan Tuli.

Lukisan Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia merespons arsip ini. Karya ini menceritakan perjuangan seorang anak Tuli dalam menghadapi pandangan masyarakat yang penuh stigma. Sosok ibu digambarkan sebagai sumber kasih sayang, perlindungan, dan penerimaan tulus yang menjadi kekuatan utama bagi anak untuk tetap bertahan menghadapi dunia. Di tengah perbedaan bahasa dan keraguan terhadap dirinya, Ibu hadir sebagai rumah yang selalu menerima tanpa syarat. Karya ini menyampaikan pesan bahwa anak Tuli bukanlah kekurangan yang harus disembunyikan, melainkan manusia yang memiliki hak, mimpi, dan masa depan yang sama seperti orang lain.