Menaut Waktu. Merekam Jejak. (Threading Time. Archiving Traces.)

Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia

Part of Jay Afrisando’s Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26

Deskripsi Visual/Visual Description

EN

What you are seeing is a print of a digital photo of a painting. The painting is placed on a standing painting board.

The visual depicts three main figures: a boy at the center, a woman on the left, and a group of people on the right.

The left side of the painting is a world of the sea where the woman occupies, while the right side is a world of land where a group of people occupies, with blue clouds lingering between the people.

The boy looks like a ‘normal’ human being. He has black short hair and his eyes are shut, and he is facing the viewer. He occupies the center where his life splits between the two worlds. His skin on his right looks lighter, while his skin on his left half looks pale reddish. His expression is sad, but tears drop from his left eye.

He is embraced by the smiling woman on his right: the mother, who is Nyi Roro Kidul, a mythical figure living in the sea. She haslong black hair and wears traditional Javanese attire in green, a golden crown, golden earrings, a golden necklace, and golden bangles on her arms and wrists. At the same time, the boy is being scolded by the group of people to his left: the Javanese humans. They have red skin and strong gaze, seemingly angry and disappointed by the boy’s existence. Two of them point their index fingers at the boy, while one of them thumbs down at the boy.

ID

Apa yang Anda lihat adalah sebuah lukisan yang dipajang di dinding dengan menggunakan tali yang mengikat enam titik di pinggiran lukisan.

Lukisan ini menggambarkan tiga tokoh utama: anak laki-laki di tengah, seorang perempuan di sebelah kiri, dan sekelompok orang di sebelah kanan.

Sisi kiri lukisan menampilkan dunia lautan di mana perempuan tersebut berada. Sisi kanan lukisan menampilkan dunia daratan di mana sekelompok orang tersebut berada. Awan kebiruan menyelimuti beberapa orang.

Anak laki-laki tersebut tampak seperti orang ‘normal’. Ia berambut hitam pendek, matanya tertutup, dan menghadap ke penonton lukisan. Ia berada di tengah di mana hidupnya terbagi menjadi dua. Kulit di sisi kanan anak itu tampak lebih cerah, sedangkan kulit di sisi kiri anak itu tampak kemerahan pucat. Ekspresi wajahnya sedih, dan air mata jatuh dari mata kirinya.

Ia direngkuh oleh perempuan di sebelah kanannya yang tersenyum: seorang ibu, Nyi Roro Kidul, tokoh mitos yang hidup di laut. Ia berambut hitam panjang dan mengenakan kostum tradisional Jawa berwarna hijau, mahkota emas, anting emas, kalung emas, dan gelang emas di lengan dan pergelangannya. Di saat yang sama, anak itu dicemooh oleh sekelompok orang di sisi kirinya: orang Jawa. Mereka berkulit merah dan memiliki pandangan tajam, yang nampak marah dan kecewa oleh kehadiran si anak tersebut. Dua dari mereka mengacungkan telunjuk mereka, sedangkan salah satu dari mereka mengacungkan jempol ke bawah kepada si anak itu.

Label Karya/Work Label

Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia/A Mother’s Embrace Amidst the Wave of the World

2026

Seniman/Artist: Zakka Nurul Giffani Hadi

Media: acrylic on canvas, 99 x 58 cm

EN

Responding to an archive: Scheltema, J. F. (archivist). 1919. “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland,” published based on a text found in his residence, finished on 26 April 1919. Published in De Indische Gids, II Episode VII-XII, editor George Nypels. Publisher: J.H. De Bussy.

Nyi Roro Kidul, a supernatural being in Indonesian folklore, is not a stranger to Javanese people and others living in Yogyakarta and Central Java. Yet, the part of the folklore that she had a deaf son whose deafness she tried to hide is not something we often hear.

An archive at KITLV, “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland” (SY BUDAG. A legend from the Javanese highlands), as narrated by a food stall owner located in an area between Tulungagung and Campurdarat (Tulungagung Regency), narrates this rarely-told story about Nyi Roro Kidul seeking a wife among the princesses of Java for her “stone-deaf” son to marry. The son faced refusals after refusals from the Javanese kingdoms that Nyi Roro Kidul and Budag visited. As part of her effort, she invited a foreign physician to diagnose her son, declaring that chaste affection whispered in his ear would restore his hearing. However, in Budag’s encounter with Nyi Roro Pending, that statement proved wrong, and Nyi Roro Pending repelled him, as she felt deceived by not being informed that Si Budag was deaf.

In response to this, visual artist Zakka Nurul Giffani Hadi painted Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia (A Mother’s Embrace Amidst the Waves of the World). This work depicts a Deaf child’s struggle against societal stigma. The mother figure was depicted as the source of love, protection, and sincere acceptance that empowers the child to strive. Amidst language differences and doubts, the mother is a home that welcomes unconditionally. This work sends a message that Deaf children are not a disgrace that needs to be hidden. Instead, they are human beings with rights, dreams, and futures like everyone else.

ID

Merespon arsip: Scheltema, J. F. (pengarsip). 1919. “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland,” dipublikasikan berdasarkan teks yang ditemukan di kediamannya, yang diselesaikan pada tanggal 26 April 1919. Dimuat dalam De Indische Gids, II Episode VII-XII, editor George Nypels. Penerbit: J.H. De Bussy.

Nyi Roro Kidul, sosok supernatural dalam cerita rakyat, bukan sosok yang asing bagi orang Jawa dan orang yang tinggal di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meskipun begitu, bagian dari cerita bahwa dia memiliki anak yang Tuli yang kondisinya dia tutup-tutupi bukan hal yang sering kita dengar.

Sebuah arsip di KITLV, “SY BUDAG. Een sage uit Java’s bergland” (SY BUDAG. Legenda dari dataran tinggi Jawa), sebagaimana dituturkan oleh pemilik warung yang berlokasi di area antara Tulungagung dan Campurdarat (Kabupaten Tulungagung), menarasikan cerita yang jarang terdengar ini tentang Nyi Roro Kidul yang mencari istri dari kalangan putri raja untuk dinikahkan dengan anaknya yang “tuli total” (stone-deaf, istilah yang digunakan dalam arsip). Si Budag mengalami penolakan demi penolakan dari berbagai kerajaan Jawa yang dikunjungi oleh Nyi Roro Kidul dan Budag. Sebagai bagian dari usahanya, Nyi Roro Kidul mengundang tabib dari negeri seberang untuk mendiagnosis anaknya. Dia menyatakan bahwa buaian mesra kasih sayang yang dibisikkan ke telinga Si Budag akan mengembalikan pendengarannya. Tetapi dalam pertemuan Si Budag dengan Nyi Roro Pending, pernyataan tersebut terbukti keliru, dan Nyi Roro Pending menolak Si Budag secara kasar karena dia merasa ditipu, tidak diberi tahu bahwa Si Budag merupakan Tuli.

Lukisan Pelukan Ibu di Tengah Ombak Dunia merespons arsip ini. Karya ini menceritakan perjuangan seorang anak Tuli dalam menghadapi pandangan masyarakat yang penuh stigma. Sosok ibu digambarkan sebagai sumber kasih sayang, perlindungan, dan penerimaan tulus yang menjadi kekuatan utama bagi anak untuk tetap bertahan menghadapi dunia. Di tengah perbedaan bahasa dan keraguan terhadap dirinya, Ibu hadir sebagai rumah yang selalu menerima tanpa syarat. Karya ini menyampaikan pesan bahwa anak Tuli bukanlah kekurangan yang harus disembunyikan, melainkan manusia yang memiliki hak, mimpi, dan masa depan yang sama seperti orang lain.