Deskripsi Visual & Teks Polos

No Matter! We have solution !!

Dalam Menaut Waktu. Merekam Jejak., bagian dari Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26 dan GIK Exhibition Series #2

Deskripsi Karya

Video hitam-putih ini dimulai dengan adegan seorang laki-laki yang mukanya dicat putih dan penuh senyum. Sangat kartunis. Di rumahnya, ia berpantomim bersiap-siap mengendarai motor. Ia mengenakan helm, mengencangkan helm, mengenakan sarung tangan, mengambil kunci motor, menyalakan motor, dan mengendarainya ke kota.

Laki-laki tersebut terkagum-kagum dengan kota, dari arsitekturnya, orang yang dia sapa, hingga sesuatu yang dia sambut dengan siulan. Lalu, ia mencoba untuk membersihkan cermin motor dengan dua tangannya. Betapa cerobohnya. Ia tiba-tiba tidak stabil dalam berkendara, sehingga hampir membuatnya tertabrak oleh mobil yang menyalip dari belakang. Ia berhenti, lalu lanjut berkendara lagi, sampai seorang polisi menyetopnya.

Polisi tersebut menyapanya, sambil berkata sesuatu. Si pengendara tidak memahami yang diakatan oleh polisi tersebut, dan berkata, “Saya Tuli dan tidak bisa mendengarkan yang Anda katakan.” Polisi tersebut berkata sesuatu dan berkata lagi dan lagi, makin berteriak, tetapi si pengendara tetap tidak bisa mendengar. Si pengendara bertanya apakah si polisi itu bisa pergi ke belakang motornya, tapi si polisi salah mengerti, menginterpretasi rikuesnya sebagai permintaan untuk berputar-putar melingkar. Si pengendara tetap memintanya untuk pergi ke belakang motornya.

Si polisi akhirnya pergi ke belakang motor si pengendara dan memperhatikan sesuatu. Ia memakai kacamatanya untuk melihatnya dengan jelas: sebuah tanda telinga dicoret dengan tulisan “TULI”. Si polisi melepaskan kacamatanya, menaruhnya kembali ke kantong kemejanya, dan kembali ke posisi semula untuk lanjut berbicara dengan si pengendara.

Si pengendara memastikan si polisi memahami bahwa dia Tuli, dan si polisi akhirnya memahami. Tetapi si polisi kemudian mengabaikan pelanggaran berkendara tersebut karena dia tidak dapat berkomunikasi dengan si pengendara Tuli. Ia membiarkan si pengendara untuk melanjutkan perjalanannya tanpa tilang. Si pengendara lalu lanjut berkendara, dan si polisi merasa frustasi dan merasa sebal ingin memukul is pengendara tersebut.

Label Karya

No Matter! We have solution !!

2026

Sutradara: Broto Wijayanto

Astrada: Nelsi

Pantomim: Wahyu and Doddy Micro

Videografer dan Editor: Arief Wicaksono

Media: video 1-kanal

Merespons arsip: Sandbergen, Frans Johan Wilhelm Henri. 1937. Wat ieder van de verkeersregels moet weten. Penerbit: Koninklijke Nederlandsch-Indische motor club, 1937.

Salah satu arsip yang ditemukan di KITLV terkait aturan berkendara di era kolonial Belanda di Indonesia adalah Wat ieder van de verkeersregels moet weten (Apa yang perlu diketahui semua orang tentang peraturan lalu lintas). Di dalam buku tersebut, terdapat aturan terkait tanda khusus yang dipasang di sepeda yang dikendarai oleh orang tuli. Aturan tersebut tidak disertai dengan penjelasan lebih lanjut, seperti apa yang perlu diperhatikan oleh pengendara lain ketika berbagi jalan dengan pengendara tuli atau pengendara dengan disabilitas lainnya. Aturan tersebut seolah menunjukkan bahwa pemerintah kolonial hanya melihat pengendara Tuli sebagai orang yang diatur, alih-alih sebagai pengendara yang memiliki hak.

Jauh setelah kemerdekaan Indonesia dan dengan perkembangan teknologi transportasi, kurangnya perhatian dan pengakuan terhadap hak-hak pengendara disabilitas masih terlihat. Sebagian besar aturan dibuat oleh orang-orang nondifabel tanpa berkonsultasi atau meminta pendapat orang-orang dengan disabilitas, sehingga banyak aturan yang tidak sesuai dan/atau tidak efektif dalam pelaksanaannya. 

Pantomim oleh Ba(WA)yang Production ini menceritakan pengalaman pengendara Tuli di Indonesia saat ini. Alih-alih mengembangkan aturan yang sesuai dengan pengendara disabilitas dan melakukan pelatihan komunikasi inklusif, para petugas lebih sering melakukan pengabaian untuk “mempermudah urusan” dengan cara membiarkan pengendara Tuli melanjutkan perjalanan dan mengabaikan prosedur standar yang berlaku karena mereka “tidak bisa” berkomunikasi dengan orang Tuli tersebut. 

Di dalam pantomim tersebut juga ditampilkan stiker penanda pengendara difabel Tuli saat ini. Stiker penanda ini, bersama dengan dua stiker lainnya untuk pengendara disabilitas daksa dan disabilitas intelektual, diinisiasi oleh Komite Disabilitas DIY, Pustral UGM, dan organisasi-organisasi disabilitas yang melakukan audiensi ke Dishub dan Ditlantas DIY. Stiker ini digunakan untuk memberi tanda kepada pengendara lain agar dapat melakukan tindakan afirmatif saat berbagi jalan dengan pengendara difabel. Meskipun demikian, masyarakat umum belum banyak mengetahui keberadaan dan fungsi stiker-stiker ini karena masih kurangnya sosialisasi.