Deskripsi Visual & Teks Polos

Nilai yang Hilang

Dalam Menaut Waktu. Merekam Jejak., bagian dari Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26 dan GIK Exhibition Series #2

Deskripsi Karya

Layar berlatar biru muda menampilkan takarir/caption sebagai transkrip dari monolog dan interpretasi musik.

Label Karya

Nilai yang Hilang

2026

Naskah dan Narasi: Yuda Wira Jaya

Musik: Fauzi Muhammad Haidi

Takarir/caption: Jay Afrisando

Media: video 1-kanal dan audio stereo

Di era sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, sistem pendidikan yang dirancang oleh pemerintah kolonial Belanda dan Indonesia jauh dari tujuan mulia dalam mengembangkan literasi dan kebebasan berpikir.

Antara tahun 1817 dan 1942, sekolah didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk meningkatkan nilai-nilai ekonomi dan sosial yang menguntungkan agenda kolonial. Sekolah awal-awal untuk difabel di Indonesia didirikan oleh misionaris Belanda sebagai bagian dari Politik Etis yang menanamkan perspektif kolonial; hal ini meliputi superioritas oralisme atas bahasa isyarat dalam sekolah Tuli, sebuah warisan yang masih muncul di beberapa sekolah hingga sekarang. Di sisi lain, sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia belum memajukan kebebasan individu dalam bertindak. Sementara itu, sebagian Sekolah Luar Biasa/SLB masih memosisikan siswa difabel lebih rendah daripada siswa non-difabel; institusi-institusi ini sengaja merendahkan standar pendidikan di SLB jika dibandingkan dengan sekolah arus utama/umum.

Monolog Nilai yang Hilang berbicara tentang nilai-nilai yang hilang dari sistem pendidikan Indonesia saat ini, yang hanya menumbuhkan anak-anak untuk melayani kepentingan pemerintah, alih-alih membuat mereka tumbuh menjadi diri mereka sendiri. Monolog ini menyatakan bahwa sistem pendidikan dapat membebaskan atau melumpuhkan orang, berangkat dari pemahaman bahwa disabilitas merupakan situasi yang dapat muncul dari lingkungan yang menekan dan menindas.