Deskripsi Visual & Teks Polos
Everybody is Someone
Dalam Menaut Waktu. Merekam Jejak., bagian dari Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-26 dan GIK Exhibition Series #2
Deskripsi & Narasi Foto
-
Deskripsi Foto: Seorang perempuan dengan akondroplasia berpose serius di depan latar belakang hitam. Ia memegang sebatang bambu yang mengarah ke pandangan fotografer. Ia berkulit cokelat dan menggunakan ornament kepala teratai ungu, kacamata dengan frame hitam, dan baju berwarna lumut.
Narasi: Rheninta Herta Riwungudewi, yang juga dikenal dengan nama lain Ninit Ungu, aktif bermain teater sejak SD dan menjajaki profesi sebagai aktris panggung teater sejak duduk di bangku kuliah di jurusan Teater. Saat ini ia bekerja di salah satu gereja di Yogyakarta dan menjadi salah satu anggota grup teater Unique Project yang beranggotakan aktor dan aktris dengan achondroplasia. Mereka kadang memainkan cerita yang berkaitan dengan isu-isu disabilitas, tapi menurut Ninit, itu bukan satu-satunya tema yang ingin dia mainkan. Ia percaya bahwa grup teater yang beranggotakan “orang-orang mini” juga bisa dan harus mencoba memainkan naskah apapun, termasuk naskah-naskah drama Shakespeare. Selain itu, dia juga tergabung dalam grup Sedhut Senut, grup sandiwara bahasa Jawa yang juga beranggotakan orang-orang nondifabel.
Ninit terlahir ‘normal’, tapi saat kelas 6 SD tubuhnya berhenti tumbuh. Dia pernah diejek ‘cebol’ oleh orang lain, tapi keluarganya menguatkannya dan tidak pernah membeda-bedakannya dengan saudaranya yang nondifabel. Menurut dia, ableisme dan diskriminasi merupakan produk dari kurangnya pendidikan di rumah. Karenanya, dia berharap melalui pementasan dan workshop yang ingin dia selenggarakan di hadapan publik, dia bisa mengedukasi masyarakat sejak mereka masih anak-anak. Dia percaya bahwa masyarakat perlu melihat bahwa orang difabel itu berdaya, tapi masyarakatlah yang membuat mereka tidak berdaya dengan menolak memberikan akses kepada orang-orang dengan disabilitas.
Photo: LTP Mas
-
Deskripsi Foto: Berpose serius, seorang fotografer laki-laki memegang kamera di tangan kanannya. Mata kanannya mengintip viewfinder kamera. Ia berkulit kuning langsat dan menggunakan topi berwarna biru navy dan kaos bercorak hitam-putih dan bersponsor, yang bertuliskan “Christianto Harsadi” dan “CANON”.
Narasi: Fotografer, penyuka sejarah, dan karyawan di sebuah EO (Event Organizer), Christianto Harsadi (Anto), yang memiliki nama isyarat seperti Superman terbang, dulu terlibat dalam kegiatan himpunan mahasiswa DKV dan himpunan mahasiswa Katolik di kampusnya, di mana dia sering menjadi seksi dokumentasi. Dari situ, akhirnya dia memperoleh pengalaman dan keahlian di bidang fotografi. Meski terlahir Tuli total, Anto baru mulai belajar BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) pada tahun 2006. Sebelumnya, dia berkomunikasi secara gestural dan verbal. Tapi sejak terjun ke dunia Tuli, dia berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat secara penuh. Sampai hari ini, dia melihat bahwa BISINDO dan akses Bahasa Isyarat masih terbatas karena BISINDO belum diakui sebagai bahasa resmi di Indonesia dan belum ada sertifikasi untuk JBI (Juru Bahasa Isyarat), sehingga hal-hal seperti penggunaan bahasa isyarat yang salah dalam teknologi yang berkembang, atau sekarang ini muncul juga AI dengan format film animasi, masih terjadi karena tidak adanya unsur ekspresi dan gestur alamiah dari sosok asli Tuli.
Dulu Anto sekolah di SLB sampai akhirnya gurunya menyarankan dia untuk masuk SMP umum karena prestasinya. Di sana, dia mengalami diskriminasi, orang-orang bergunjing di belakangnya, dan dia juga mengalami kekerasan fisik walau jarang. Tapi dia bisa cepat beradaptasi karena keluarganya sudah mempersiapkannya sejak umur 8 tahun untuk bisa berinteraksi dengan dunia luar. Dia pernah berkata, “Tuhan kapan aku jadi orang Dengar?” karena diskriminasi yang dia alami. Tapi dia akhirnya sadar bahwa tidak ada orang yang “rusak.” Namun, sayangnya, diskriminasi dan ableisme sangat kuat dalam pikiran orang-orang sehingga orang-orang difabel mesti lebih berprestasi agar bisa dihormati dan diberi kesempatan yang sama.
-
Deskripsi Foto: Seorang pemain tenis perempuan berkursi roda sedang memukul bola yang datang dari lawan. Ia memegang raket biru-merah dan memakai topi merah, kacamata hitam, kaos merah, lengan baju bagian dalam berwarna hitam, celana pendek hitam, dan kaos kaki hitam. Di belakangnya terdapat pagar wiremesh yang membatasi arena.
Narasi: Atlet Indonesia dari cabang olahraga tenis kursi roda bernama Ndaru Patma Putri ini tidak selalu ‘berjalan’ dengan kursi roda. Dia terlahir ‘normal’, tapi gempa Jogja 2006 mengubah hidupnya. Tembok rumah tetangga yang rubuh menimpa tubuhnya membuat kakinya lumpuh. Selama bertahun-tahun dia tidak bisa menerima kondisinya. Tapi dukungan keluarga dan komunitas difabel di sekitarnya membantunya bangkit. Sempat berhenti sekolah karena kondisi kesehatan dan ekonomi, dia kembali bersekolah dan menamatkan SMA dengan beasiswa.
Ketika temannya memperkenalkannya pada tenis kursi roda, dia pun mencobanya. Suatu hari, namanya dicatut tanpa pemberitahuan dan dimasukkan ke dalam daftar untuk berlaga dalam kejuaraan nasional. Dia sempat tidak suka karena takut kehilangan beasiswanya akibat sibuk latihan. Keluarganya juga khawatir aktivitas fisik yang berat dapat membahayakan kesehatannya. Tapi dia akhirnya membuktikan bahwa dia bisa meraih medali perunggu tanpa mengorbankan pendidikannya. Dia telah berkompetisi di ajang nasional dan internasional di mana dia bertemu dengan atlet disabilitas maupun nondisabilitas yang saling mendukung. Dia banyak belajar, baik itu teknik bermain tenis kursi roda maupun tentang kehidupan, dari para atlet yang dia temui. Ingin berkontribusi kepada masyarakat, dia aktif bersama Ba(WA)yang Production untuk mengenalkan dan mematahkan stigma tentang difabel kepada masyarakat non-difabel.
-
Deskripsi Foto: Seorang penari remaja perempuan menghadap ke pandangan fotografer, tapi ia memandang sedikit menghadap ke kiri. Ia tersenyum sedikit, dan kedua tangannya bersandar di pinggang. Ia berambut hitam panjang, yang dikucir menjadi dua. Ia memakai atasan bercorak bunga yang padat dan berwarna merah serta rok oranye-kemerahan. Di belakangnya terdapat latar panggung dengan sedikit penampakan ilustrasi gedung pengadilan Cina.
Narasi: Penari berusia 19 tahun, Alexandra Jessica Tatianna, yang juga dikenal dengan nama panggilan Andra, sudah menari sejak TK. Ia mulai menari sejak ikut kursus menari bersama teman-teman nondisabilitas. Dia juga tergabung di beberapa sanggar, yaitu Digjaya Dance yang merupakan sanggar tari inklusi, Sanggar Natya Lakshita milik Didik Nini Thowok, Sanggar Tari Tuli, dan Nalitari, di mana dia dan teman-teman dengan kondisi ketubuhan yang beragam berproses bersama dan menggarap tari-tari kontemporer yang mengolah imajinasi dan kreativitas. Andra juga sedang mengikuti pelatihan barista yang diadakan oleh Kopi Kamu bekerja sama dengan POTADS (Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome). Pelatihan ini tidak terbatas pada kurun waktu tertentu, melainkan berlangsung hingga pesertanya mahir.
Di balik kesuksesan Andra, ada Ibu Putu Daisy Khristanti yang sangat mendukungnya. Menyadari bahwa anak-anak dengan Down syndrome adalah peniru, tidak hanya meniru guru-gurunya, tapi juga teman-temannya, Ibu Daisy sangat teliti dalam memilih pendidikan untuk Andra. Ia mewawancarai sekolah-sekolah dan memastikan sekolah yang dia pilih untuk Andra sesuai dengan visi dan misi pendidikan inklusif. Di saat banyak orang tua menyembunyikan anak-anaknya yang mengalami disabilitas, ia memilih jalan yang berbeda dengan mengapresiasi, mendukung, dan menunjukkan prestasi Andra kepada dunia. Ia juga aktif di POTADS.
Bersama Ibunya, Andra menginspirasi orang-orang difabel dan nondifabel dan orang tua dengan anak difabel. Meskipun mereka telah melihat perkembangan dalam inklusi dan akses di Indonesia saat ini, mereka percaya bahwa peran dan dukungan orang tua tetap menjadi penentu.
-
Deskripsi Foto: Seorang penari remaja perempuan berpose sedikit ke sisi kanannya. Dengan sedikit senyum, ia menaikkan lengan kirinya dengan telapak tangan luar menghadap ke luar. Ia berambut hitam sepanjang bahu dan memakai topi petani Jawa yang didekorasi dengan pita putih. Ia memakai atasan putih, kalung krem, dan gelang mutiara putih.
Narasi: Selain menari bersama Sanggar Tari Tuli, sanggar tari inklusif Nalitari, dan juga berkegiatan di sanggar keterampilan bernama Sanggar Mutiara, seniman Nadya Annisa Raharjo, anggota Komunitas Keluarga Para Rupa Yogya, dikenal dengan karya lukis dan kerajinan yang telah dipamerkan di banyak pameran bergengsi di Indonesia, seperti Galeri Nasional Jakarta, Bentara Budaya Jakarta, dan Bentara Budaya Yogyakarta. Pernah beberapa kali mendapat undangan untuk ikut pameran bernama Suluh Sumurup Art Festival di beberapa lokasi.
Dulu, Nadya sulit mendapatkan sekolah karena ia didiagnosis dengan Autism Spectrum Disorder dan pada saat itu masih sulit untuk mencari sekolah inklusif. Ia juga ditolak masuk ke sekolah umum. Setelah orang tuanya melakukan konsultasi dengan dinas pendidikan setempat, ia disarankan untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) bersama murid-murid dengan disabilitas mental. Dia juga mengalami diskriminasi ketika pertama kali ikut kelas menari di salah satu sanggar di kotanya dulu. Saat itu ia disisihkan, meskipun gurunya awalnya sudah bilang bahwa dia akan diterima.
Terlepas dari hal-hal tersebut, keluarga Nadya—terutama ibunya, Ibu Dyah Ruwiyati—mendukung pendidikan dan kegiatan berkeseniannya. Menurut Ibu Dyah Ruwiyati, meskipun dukungan masyarakat terhadap orang-orang dengan disabilitas saat ini lebih besar dari era sebelumnya dan kesadaran terhadap disabilitas dan lingkungan inklusif sudah mulai berkembang, masih banyak orang tua yang menyembunyikan anak-anaknya yang difabel. Menurutnya hal tersebut harus diubah, karena pondasi paling kuat untuk anak, terutama anak difabel menghadapi dunia dimulai dari penerimaan keluarganya.
-
Deskripsi Foto: Seorang laki-laki aktivis mini berdiri dan berbicara di depan audiens sambil memegang mikrofon. Ia memakai baju batik becorak merah, hitam, putih, kuning, dan hijau tua. Ia berdiri di depan stage riser. Latar panggungnya menunjukkan bahwa ia sedang berbicara di kegiatan orientasi untuk difabel.
Narasi: Awalnya, Sholeh—begitu ia biasanya dipanggil—tidak merasa dirinya difabel. Di masa sekolah, dia tidak mengalami diskriminasi, mungkin karena ia lahir dari keluarga terpandang di masyarakat dan ibunya seorang perawat, sehingga ibunya dapat menjelaskan kondisinya kepada orang lain. Sholeh dulu bersekolah di sekolah umum dan saat itu tidak tahu adanya Sekolah Luar Biasa/SLB. Karena kondisi matanya yang tidak dapat melihat dari jauh dan juga tubuhnya yang imut, dia kerap duduk sangat dekat dengan papan tulis agar dapat mengikuti pelajaran. Meskipun mengalami kondisi low vision, ia menyukai bidang IT dan bermimpi menjadi seorang programmer.
Saat ini dia bekerja di SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak), tapi menurut pengakuannya, keterlibatannya dalam gerakan disabilitas adalah sebuah kebetulan. Saat masih kuliah, rekannya yang sesama difabel mengajaknya bergabung dengan Pemantau Pemilu Independen untuk mengawasi pemilu. Ia juga pernah menjadi sukarelawan di Mitra Netra sebagai reporter, di mana ia bertemu dengan orang-orang difabel yang mengalami berbagai hambatan. Hal ini yang membuat dia merasa bahwa, dengan privilege yang dia punya sebagai orang yang bekerja di organisasi disabilitas dan memiliki kemampuan public speaking serta advokasi, dia memutuskan untuk mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak disabilitas.
Dia percaya bahwa ketika seseorang sudah selesai dengan dirinya, ia bisa membantu memecahkan permasalahan di luar dirinya. Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa kalau mereka tidak bisa membantu, setidaknya jangan memusuhi atau mengejek. Berdasarkan pandangannya, meskipun pemerintah Indonesia sudah mengesahkan UU No. 8 Tahun 2016 terkait orang-orang dengan disabilitas, sosialisasinya masih belum cukup. Belum banyak orang yang tahu tentang undang-undang tersebut, apalagi menjalankannya. Sementara itu, banyak orang tahu cara membantu orang difabel justru dari media sosial. Usaha dari individu-individu dan komunitas-komunitas juga membawa dampak yang lebih besar terhadap kesadaran tentang keadilan disabilitas dalam masyarakat, dan kita perlu meningkatkannya.
-
Deskripsi Foto: Seorang penari perempuan mini menari di panggung di bawah lampu spot. Ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan tangan kirinya di samping, berpose dalam gaya tari Jawa. Ia memakai atasan biru tua dan rok batik. Latar panggungnya mengindikasikan bahwa ia menari di acara International Women’s Day.
Narasi: Lulus dari jurusan Teater S1 lebih dari 10 tahun lalu, aktris dan penari Christianingtyas, yang juga akrab dipanggil Yayas Christy, pernah terlibat dalam program Cultural Village sebagai pendamping budaya yang mendampingi masyarakat untuk menggali dan menjaga budaya tradisional di Yogyakarta agar tetap hidup. Ia juga tergabung di Unique Project Theatre, sebuah komunitas seni inklusi yang ada di Yogyakarta. Selain itu, ia kerap tampil bersama beberapa komunitas teater dan tari yang beranggotakan aktris dan aktor disabilitas. Ia juga mendirikan Hecka Art Studio yang terbuka untuk umum. Sebagai seorang dengan achondroplasia, ia juga sering melakukan advokasi hak-hak “orang-orang mini” baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Pernah duduk di bangku sekolah menengah kejuruan tari, ia mengalami pengalaman yang beragam. Di satu sisi, dia difasilitasi oleh sekolahnya dengan kostum tari yang ukurannya sesuai. Tapi ia juga pernah tidak diikutkan dalam beberapa pertunjukan tari karena tubuhnya yang mini, meskipun beberapa guru menilai bahwa ia bisa menari lebih baik daripada teman lainnya. Ia juga pernah diberi peran tari sebagai tokoh yang jelek (buto) ketika teman-teman penari lainnya berdandan dengan make-up yang cantik-cantik. Dengan pengalaman kurang menyenangkan ini, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang teater (bukan jurusan tari) saat S1. Tetapi akhirnya ia mengetahui bahwa program tari di kampus tersebut memiliki pandangan yang lebih luas, sehingga ia pun terlibat dalam dua program tersebut dan menikmatinya.
Meskipun pemerintah memiliki undang-undang tentang disabilitas, menurutnya, implementasinya masih belum terlihat dan diskriminasi masih ada di mana-mana, termasuk di dunia kerja. Sementara itu, Yayas Christy percaya bahwa komunitas-komunitas difabel juga harus percaya pada diri mereka sendiri dan melihat potensi mereka sehingga mereka bisa menjalani hidup di dunia dengan lebih baik.
-
Deskripsi Foto: Seorang penyanyi laki-laki dengan disabilitas netra bernyanyi di panggung. Di belakangnya terdapat latar hitam dengan sedikit penampakan judul acara. Ia memakai kaos hitam berpola kotak-kotak, dengan indikator angka “3” di kiri atas kaosnya, bercelana cokelat muda, dan bersepatu putih.
Narasi: Ketika ditanya apakah kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) adalah pilihan pertamanya, vokalis Wahyu Ishlakhuddin Ar Mansyah memberikan jawaban yang sangat mengejutkan. Ia mengaku bahwa ia adalah korban dari perspektif masyarakat di mana orang tua dan guru berpikir bahwa jurusan kuliah yang cocok untuk orang-orang difabel (terutama disabilitas netra) adalah jurusan Pendidikan Luar Biasa. Kalau dia boleh memilih, dia akan memilih berkuliah di jurusan musik. Menurutnya, meskipun kurikulum pendidikan luar biasa sudah mulai berkembang, namun masih belum mampu mengubah perspektif di mana kurikulum masih fokus pada pendidikan bagi siswa difabel dari sisi akademik dan program khusus, dan masih mengabaikan bidang lain seperti seni dan olahraga. Meskipun Wahyu berkuliah di PLB, jiwa musiknya tidak padam.
Melalui bernyanyi solo maupun bersama grup bandnya, The Picexz, Wahyu menemukan suaranya. Ia telah mengikuti kompetisi-kompetisi menyanyi yang menurutnya sudah lebih aksesibel daripada yang orang-orang kira. Panitianya siap menyambut kontestan-kontestan difabel. Di sisi lain, ia masih melihat bahwa industri musik masih mengeksploitasi cerita-cerita sedih orang-orang difabel dalam kontes bernyanyi yang ditayangkan di TV, misalnya, alih-alih berfokus pada kemampuan bernyanyinya. Menurut Wahyu, orang-orang difabel harus mulai mengubah stigma bahwa disabilitas sama dengan kondisi ekonomi dan pendidikan yang rendah. “Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri; jadilah berani dan buatlah terobosan,” kata Wahyu.
-
Deskripsi Foto: Seorang perempuan berpose menghadap pandangan fotografer. Ia memakai kacamata cokelat tua, hijab abu-abu, dan baju kemeja biru navy. Tanaman pakis sebagian menjadi latar belakangnya.
Narasi: Sambil menyelesaikan kuliahnya, Amanda Udayaningtyas (Amanda) mulai berwirausaha dengan menjalankan bisnis online shop dan menjual produk fashion. Dia juga pernah aktif di Komunitas Peduli Nusantara. Ia terlahir awas, namun mulai kehilangan penglihatannya di usia 6 tahun karena glaukoma dan menjadi disabilitas netra total saat berusia 9 tahun. Ia mengalami berbagai macam diskriminasi selama bersekolah, mulai dari tidak boleh ikut pelajaran olahraga, tidak diberikan akses deskripsi visual, hingga perspektif teman-teman sekolahnya yang menganggap ia tidak bisa apa-apa.
Menurutnya, diskriminasi adalah hasil dari kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap isu-isu disabilitas. Ia berpendapat bahwa orang seharusnya menyadari bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda dan sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menyediakan akses. Meskipun pemerintah sudah mengesahkan undang-undang terkait disabilitas dan hak-hak difabel, perubahan belum terlihat. Meskipun demikian, dia berharap orang-orang difabel tidak patah semangat dan masyarakat dapat lebih mendukung difabel serta memberikan kesempatan yang setara.
-
Deskripsi Foto: Seorang perempuan pemanah, berdiri di samping pemanah lainnya dalam sebuah kompetisi, memegang anak panah dan membusungkan busur panah. Ia sedang akan menembak. Ia memakai topi hitam, kacamata ber-frame hitam, dan kaos merah-putih. Pemanah lain di sampingnya tampak blur.
Narasi: Atlet panahan Nuraini Hidayati yang juga dikenal dengan nama panggilan Ida ini sering bertanding di kejuaraan umum maupun khusus untuk difabel. Meskipun disabilitas tubuhnya membatasi mobilitasnya, tidak dengan semangatnya. Tahun lalu ia memenangkan medali di tiga kategori sekaligus dalam Paralimpiade Daerah di Yogyakarta. Ia juga terlibat dalam National Paralympic Committee (NPC) bersama teman-teman atlet difabel lainnya.
Selain di lapangan panahan dan berkompetisi merebut medali, kita juga bisa menemui Ida di kelas bersama murid-muridnya. Sedang menempuh pendidikan S2 di jurusan matematika, Ida mengajar matematika di sebuah SMA di Kulon Progo. Ketika ditanya terkait inklusi dan akses di dalam sistem pendidikan, ia menjelaskan bahwa pemerintah sudah memulai program Sekolah Inklusi, meskipun sesungguhnya dukungan, termasuk infrastruktur yang lebih baik, masih sangat dibutuhkan. Dalam skala yang lebih kecil, menurut Ida, sangat tergantung pada pimpinan sekolah. Ketika para kepala sekolah memahami hak-hak murid dan guru difabel, mereka akan mencari cara untuk memberikan akses kepada murid-murid dan guru-guru difabel meskipun sumber dayanya masih terbatas.
-
Deskripsi Foto: Di sebuah rumah kayu, seorang laki-laki menelusuri lukisan taktilnya yang terbuat dari mutiara melalui jari-jarinya. Ia berkulit cokelat gelap dan berambut hitam keriting, dan memakai ikat rambut oranye-hijau dan kaos hitam dengan kaligrafi Arab. Dua lukisannya terpajang di dinding kayu.
Narasi: Banyak orang tahu bahwa sensor perabaan adalah salah satu pintu bagi para difabel visual untuk mengakses dunia, tapi tahukah kamu kalau seniman Mitro menggunakan indera perabaan di kakinya untuk bernavigasi? Dia tidak mengenakan sepatu, sandal, atau alas kaki apapun, sehingga dia bisa merasakan dan mengorientasikan dirinya di lingkungan sekitar. Dia juga mengaplikasikan sensor perabaan dalam beberapa karyanya sehingga orang dengan disabilitas visual dapat mengakses karyanya.
Dia telah membuat dan memamerkan karyanya pada beberapa kesempatan di Yogyakarta. Ketika ditanya bagaimana cara dia mengetahui warna apa yang dia lukiskan di atas kanvas, dia berkata bahwa ada asisten yang membantunya. Meskipun demikian, dia penasaran untuk mengeksplorasi kemungkinan menggunakan pewarna alami sehingga dia bisa menggunakan indera pengecapannya (lidah) untuk mengidentifikasi warna. Ketika tidak sedang melukis atau memamerkan karya, Mitro juga melakukan pekerjaan seperti menjadi tukang cuci, menyediakan jasa pijat, dan membuka usaha sablon. Mitro, seorang seniman yang rendah hati dan ramah ini, juga senang membagikan pengalamannya bersama klub Vespa.
-
Deskripsi Foto: Seorang laki-laki duduk di perpanjangan motor modifikasinya yang aksesibel untuk orang berkursi roda. Ia tersenyum. Ia berkulit cokelat dan memakai topi hitam, kemeja abu-abu gelap, tas slempang hitam, dan celana abu-abu terang. Rumah Jawa kayu menjadi latar visualnya.
Narasi: Mantan atlet panahan, Sulistyo, yang juga dikenal dengan nama panggilan Cublik, saat ini memfokuskan waktunya di Yayasan Sapadita yang dia dirikan untuk mengadvokasi dan mendukung orang-orang difabel di area tempat tinggalnya. Dia menyadari bahwa tidak semua orang difabel memiliki akses yang sama terhadap informasi dan kesempatan, terutama mereka yang termasuk kalangan ekonomi bawah atau yang tinggal di desa dengan akses yang terbatas terhadap informasi dan koneksi internet. Karenanya, ia bercita-cita untuk membantu menyediakan informasi dan kesempatan bagi orang-orang di sekitarnya.
Karena kondisi kesehatannya saat masih remaja, dia tidak menyelesaikan SMA. Tapi itu bukan berarti dia berhenti belajar, termasuk isu-isu terkait disabilitas dan aksesibilitas. Dia juga berwirausaha dengan membuka jasa desain sablon, kerajinan tangan, dan percetakan. Sebagai orang difabel dengan kursi roda, dia menyadari bahwa mobilitasnya lebih sulit dibandingkan dengan orang lain jika lingkungan tidak aksesibel. Karena itu, dia menekankan bahwa menciptakan lingkungan yang aksesibel adalah salah satu cara untuk menegakkan hak-hak disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.
-
Deskripsi Foto: Seorang laki-laki dengan disabilitas netra membaca buku braille di perpustakaan. Ia difoto dari samping, dan sisi kirinya nampak jelas. Ia berkulit kuning langsat dan memakai kemeja hitam.
Narasi: Baru saja lulus SMA, Nawala Aji Pradana memiliki cita-cita yang tinggi. Salah satunya, ia ingin menjadi aktor. Dia telah beberapa kali tampil bersama Teater Braille (sebuah grup teater untuk aktris dan aktor difabel netra). Ia menikmati seni peran bersama mereka dan, menurutnya, dia lebih mengeksplorasi “feeling” dibandingkan visual karena mereka tidak bisa saling melihat ekspresi wajah. Dia juga sering menampilkan hadroh (musik rebana, memainkan lagu-lagu Islami) bersama grup hadroh sekolahnya dan grup hadroh difabel. Meskipun dia menikmati bermain hadroh dengan kedua grup tersebut, ia mengatakan bahwa grup hadroh difabel cenderung lebih imajinatif dan eksploratif. Dia juga menulis puisi dan membacakannya dari satu panggung ke panggung lainnya.
Impiannya yang lain adalah menginisiasi komunitas difabel netra di kota asalnya, Aceh, karena dia melihat difabel di sana masih banyak bergantung pada bantuan sosial, dan akses mereka terhadap informasi juga masih rendah, termasuk terkait hak-hak dan keadilan disabilitas. Karenanya, dia ingin memperbaiki keadaan melalui pemberdayaan para difabel serta memperjuangkan aksesibilitas dalam pendidikan dan pekerjaan. Menurut Nawala, diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas disebabkan oleh kurangnya literasi tentang disabilitas dan stigma yang sudah usang di masyarakat. Dia percaya bahwa lingkungan yang inklusif membuat kita saling belajar. Seperti pada suatu hari ketika salah satu teman sekelasnya bertanya kenapa dia mencatat dengan paku dan Nawala menunjukkan bagaimana cara menulis dan membaca huruf braille. Sekarang, temannya juga bisa membaca huruf braille.
-
Deskripsi Foto: Seorang laki-laki dengan disabilitas netra mengangkat kepalan tangan kirinya dalam sebuah orasi. Latarnya mengindikasikan ia sedang berbicara dalam acara sosialisasi pemilu. Ia memakai batik cokelat-gelap-hitam bercorak daun.
Narasi: Sering terlihat berlari bersama pendampingnya (guide runner), Wildan Aulia Rizqi Ramadhan tidak membiarkan disabilitas visualnya menghalangi usahanya untuk mencapai garis akhir. Selain dalam cabang olahraga lari, dia juga bertanding dalam kejuaraan lompat jauh. Seperti atlet difabel lainnya, Wildan juga bergabung dengan NPC (National Paralympic Committee) di wilayah tempat tinggalnya.
Di lapangan lari, dia dikenal sebagai atlet. Namun, dalam demokrasi, Wildan adalah pejuang demokrasi bagi pemilih difabel. Dia bergabung dengan PPUA (Pusat Pemilihan Umum Akses) Disabilitas Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memastikan bahwa pemilu yang diselenggarakan aksesibel untuk difabel, salah satu contohnya adalah dengan memastikan tersedianya kartu suara braille dan memastikan lokasi pemilu yang aksesibel. Meskipun demikian, menurutnya masih banyak hal yang perlu dikoreksi, salah satunya adalah aturan bahwa kandidat pemilu harus “sehat”, yang membuat aturan ini memiliki potensi diskriminasi terhadap difabel. Dia juga berharap proses politik sehari-hari juga bisa lebih aksesibel, contohnya penyediaan running text (captions/takarir) pada sidang-sidang parlemen dan ruang-ruang sidang yang aksesibel.
-
Deskripsi Foto: Seorang perempuan dengan disabilitas netra berdiri di depan tembok semen yang diselimuti oleh tanaman. Ia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya seakan-akan menyambutmu. Ia memakai kacamata ber-frame transparan, hijab biru tua, kaos bercorak batik bintang dan polka dot, dan dalaman lengan berwarna hitam.
Narasi: Atlet catur dan goalball, Aulia Rachmi Kurnia, juga masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas, di mana dia juga bekerja paruh waktu di ULD (Unit Layanan Disabilitas). Dia sudah bermain goalball sejak 10 tahun yang lalu dan bermain catur sejak 4 tahun lalu. Ketika ditanya tentang bidak catur yang dimainkannya, dia menjelaskan apa perbedaan catur paralimpik untuk atlet disabilitas netra dengan catur pada umumnya. Desain inklusif pada catur braille memungkinkan bidak catur berdiri tegak tertancap di atas papan caturnya. Kadang-kadang dia juga bermain catur dengan atlet nondifabel dan dia merasa mereka juga mengapresiasinya.
Merefleksikan pengalamannya selama SD sampai SMA, dia menyadari bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih jauh dari inklusif. Itu alasan kenapa dia ingin membantu teman-teman difabel di kampusnya melalui ULD. Selain kegiatan akademik dan olahraga, dia juga bergabung dengan Sat Adhirajasa, sebuah komunitas film yang memproduksi film-film pendek yang mengangkat isu-isu disabilitas.
Aulia mengamati bahwa banyak orang masih berpikir disabilitas adalah kutukan dan/atau penyakit. Pandangan ini harus diubah. Dia juga berpendapat bahwa diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas terjadi karena kurangnya edukasi dan informasi. Karenanya, dia menyarankan bahwa perubahan harus dimulai dari orang-orang difabel sendiri: bagaimana mereka memandang diri mereka dan berjuang untuk hak-hak mereka, termasuk infrastruktur yang aksesibel.
-
Metadata foto asli: Dwerg in een kraton op Midden-Java, vermoedelijk een nar (Orang dengan dwarfisme di kraton di Jawa Tengah, kemungkinan seorang pelawak). Catatan: Lantern plate issued by Newton & Co. Makers / London. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1870. Arsip Leiden University Libraries (KITLV 186211).
-
Metadata foto asli: Javaanse lilliputter aan het hof te Soerakarta (Seorang liliput Jawa di kraton di Jawa Tengah). Album foto oleh Lieutenant ter Zee H. Nijgh. Index tulisan tangan di foto oleh Henricus Nijgh. Jurnal pribadi korespondensi dari the Noble Chest 1st class H. Nijgh Jr. a/b Zr.Ms. sailing corvette Prince Maurits der Nederlanden, 10 October 1862. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1870. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1124).
-
Metadata foto asli: Kind en een man met dwerggroei op een fiets in Nederlands-Indië (Seorang anak dan seorang laki-laki dengan dwarfisme naik sepeda di Hindia Belanda). Tempat tidak diketahui. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1922. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1375).
-
Metadata foto asli: Kind en een man met dwerggroei op een fiets in Nederlands-Indië (Seorang anak dan seorang laki-laki dengan dwarfisme naik sepeda di Hindia Belanda). Tempat tidak diketahui. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1922. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1375).
-
Metadata foto asli: Man naast een man met dwerggroei in Nederlands-Indië (Seorang laki-laki di samping seorang laki-laki dengan dwarfisme di Hindia Belanda). Tempat tidak diketahui. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1922. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1375).
-
Metadata foto asli: Man naast een man met dwerggroei in Nederlands-Indië (Seorang laki-laki di samping seorang laki-laki dengan dwarfisme di Hindia Belanda). Tempat tidak diketahui. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1922. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1375).
-
Metadata foto asli: Twee mannen naast een man met dwerggroei in Nederlands-Indië (Dua orang laki-laki di samping seorang laki-laki dengan dwarfisme di Hindia Belanda). Tempat tidak diketahui. Dipublikasikan/dibuat sekitar 1922. Arsip Leiden University Libraries (KITLV A1375).
Label Karya
Everybody is Someone
2026
Profil: Rheninta “Ninit Ungu” Herta Riwungudewi, Christianto “Anto” Harsadi, Ndaru Patma Putri, Alexandra “Andra” Jessica Tatianna, Nadya Annisa Raharjo, Sholeh, Christianingtyas “Yayas Christy”, Wahyu Ishlakhuddin Ar Mansyah, Amanda “Tyas” Udayaningtyas, Nuraini “Ida” Hidayati, Mitro, Sulistyo “Cublik”, Nawala Aji Pradana, Wildan Aulia Rizqi Ramadhan, Aulia Rachmi Kurnia
Profil dinarasikan dan dituliskan bersama: Terry Perdanawati dan Jay Afrisando
Di dalam arsip-arsip kolonial yang ditemukan di KITLV, terdapat beberapa foto orang-orang difabel dengan informasi yang sangat minim dan tanpa konteks terkait identitas orang yang difoto, serta mengapa dan bagaimana foto tersebut diambil. Hal tersebut mengindikasikan bahwa orang-orang difabel yang difoto hanya dianggap sebagai objek, sedangkan setiap orang pada dasarnya adalah manusia yang memiliki cerita.
Foto dan cerita teman-teman difabel di Indonesia ini menjadi salah satu bentuk kontraarsip penting yang diharapkan dapat mematahkan klise/stereotip tentang disabilitas dan difabel.